Kids seated around a table in a colorful classroom, eating snacks happily.

Dulu kayaknya orang tua kita gak harus serius banget milih TK. Rata-rata cari yang dekat dengan rumah, tapi sekarang udah beda banget ya. Baru tahu kalau urusan TK aja udah dengan proyeksi mau masuk SD yang mana.

Dulu juga rasanya ga perlu jauh-jauh waktu urusan daftar sekolah. Ternyata jaman sekarang urusan seleksi masuk TK sudah sejak 1 tahun sebelumnya. Anak TK A seleksinya dari umur 3 tahun (untuk masuk sekolah usia 4 tahun), anak TK B udah seleksi dari usia 4 tahun (untuk sekolah di usia 5 tahun), dan anak kelas 1 SD udah seleksi dari umur 5 tahun (untuk sekolah di usia 6 tahun).

Sebelum cerita memilih dan menyiapkan anak masuk TK, kita cerita tiga hal ini dulu yuk. Katanya, tiga hal ini sering jadi pertanyaan/kegalauan orang tua mencari arah pendidikan anaknya.

Tim sekolah cepat-cepat atau santai aja?
Pada dasarnya menentukan kapan anak sekolah bergantung kapan anak kita siap untuk sekolah. Kapan anak mampu mengikuti seluruh kegiatan di sekolah. Mulai dari mengikuti instruksi guru, mandiri saat makan, ke toilet, mengurus barang-barang pribadi, melepas/memakai sepatu sendiri, dan tentunya berpisah dari orang tua. Pertanyaannya apakah anak kita udah siap dengan kemandiran di atas? Apalagi untuk waktu sekolah yang lebih dari 2 jam.

Untuk semua kemampuan kemandirian seperti di atas, kami menargetkan anak mampu seluruhnya di usia 5 tahun. Sehingga nanti anak sudah bisa mengikuti kegiatan TK dengan kondusif. Meski anak kami sudah terlihat keinginannya untuk bersekolah sejak di usia 4 tahun, tapi secara kemandirian saat itu anak masih belum mencapai semua aspeknya. Sehingga lebih baik tetap saja pada target utama yaitu siap di usia 5 tahun. Alhamdulillah, targetnya tercapai sesuai waktunya.

Kalau anak ayah-bunda siap lebih dini kemandiriannya dan punya minat sekolah yang tinggi, gapapa banget untuk pertimbangkan anak masuk kegiatan pendidikan usia dini manapun yang cocok dengan anak dan ayah bunda. Kita ingin anak mendapat pendidikan yang seperti apa? Selaras gak dengan arah pendidikan sekolah? Cek apa yang sekolah inginkan dari kemampuan anak, lalu nilailah apakah anak kita siap mengikuti kegiatan yang sekolah punya.

Tim Kelompok Bermain (KB/Playgroup), Bimba, atau TK?
Selain beda usia masuk, tiga jenis pendidikan usia dini ini juga beda tujuan. Kelompok bermain biasanya untuk anak usia 2-4 tahun. Bentuk kegiatannya cenderung ke kelas stimulasi. Bimba (Bimbingan Minat Baca dan Belajar Anak) ini kegiatan belajar membaca, menulis, berhitung. Kegiatannya seperti les (1 guru mengajar 2-4 anak) beberapa kali seminggu. Anak bisa masuk Bimba mulai usia 4 tahun. Sedangkan TK adalah pendidikan formal pra sekolah untuk mempersiapkan anak ke tingkat SD. Kurikulum TK juga sudah ada standar nasionalnya. Durasi per harinya bisa 4 jam dengan 5 kali dalam seminggu.

Lalu kami pilih pendidikan usia dini yang mana? Kami memilih TK, dan langsung ke TK B (usia 5-6 tahun) karena mempertimbangkan pencapaian kemandirian anak dan harapan agar anak bersiap sebelum dunia SD. Memilih TK yang mana artinya pilih dulu ingin masuk SD yang mana. Kami mencari SD yang TIDAK mensyaratkan HARUS BISA baca, tulis, hitung (calistung) untuk masuk. Otomatis kami berusaha mencari jenis pendidikan pra sekolah yang tidak menekankan calistung. Harapannya calistung dilakukan secara fleksibel dan paralel saja, bukan agenda utama dalam belajar. Penting untuk dikenalkan, distimulasi secara bertahap, dibiasakan, tapi TIDAK DITUNTUT harus bisa saat seleksi SD.

Kalau anak masuk SD pada usia 6-7 tahun, otomatis proses seleksinya sudah dari usia 5 tahun. Kalau sekolah mensyaratkan calistung saat seleksi SD, berarti anak dituntut bisa di usia 5 tahun. Nah otomatis, anak sudah harus lebih giat calistung dari usia 4 tahun. Kami tidak ingin memaksakan anak berjibaku dengan itu di usianya yg 4-5 tahun. Kami ingin usia 4-6 tahunnya diisi stimulasi fisik, motorik, kognitif, bahasa, dan agama yang masih banyak bermainnya. Sebelum nanti usia 6 tahun masuk SD sudah mulai belajar dengan lebih “serius”.

Tim TK negeri/swasta umum, internasional, atau berbasis agama?
Kembalikan pada visi keluarga masing-masing. Sejak sebelum anak lahir, tekad kami bulat untuk menyekolahkan anak di sekolah swasta berbasis agama. Kami ingin anak berada dalam lingkungan dengan penanaman pemahaman agama dan pembiasaan praktik agama yang selaras dengan di rumah. Kesamaan pendidikan di rumah dan sekolah akan sangat menguatkan pemahaman anak karena pesan yang diberikan saling mendukung.

Alhamdulillah Allah menakdirkan sekolah TK dan calon SD yang kami tuju memang lebih menekankan kemandirian anak dan kesiapan sekolah, serta kesamaan visi orang tua murid dan sekolah dalam pendidikan agama anak, bukan menuntut harus bisa kemampuan calistung sebagai bentuk seleksi.

Children engaged in a vibrant arts and crafts session with paper and pencils. Perfect for education and creativity themes.

Nah sekarang ini dia 5 hal yang kami lakukan dalam memilih dan menyiapkan anak masuk TK

  1. Sumber informasi tentang sekolah
    Alhamdulillah di lingkungan tetangga sudah ada yang bersekolah di TK dan SD yang kami tuju. Jadi sumber informasi utama adalah tetangga atau kenalan orang tua yang anaknya sudah bersekolah di sana. Kami dapat banyak informasi langsung dari sesama orang tua. Misal jauh sebelum pendaftaran dibuka, kami diingatkan untuk nanti jangan menunda-nunda untuk daftar. Persiapkan anak untuk ikut penilaian melalui kegiatan observasi (anak bermain dengan guru) dan wawancara bagi orang tua. Meski pihak sekolah membuka diri untuk ditanya-tanyai. Tapi pengalaman langsung orang tua para murid sangat membantu kita dapat informasi yang nyata
  2. Persiapkan dananya
    Saat penerimaan siswa setiap tahunnya, sekolah yang kami tuju dengan jelas memberikan informasi seluruh biaya pendidikan anak (uang pangkal, spp bulanan, seragam, kegiatan, dll) di website sekolah. Jadi kami tinggal cek website-nya saja untuk perkiraan di tahun anak akan masuk. Info biaya paling update tentu setahun sebelum anak masuk.
    Kalau urusan menabung pendidikan anak sebenarnya sudah kami lakukan sejak anak lahir. Tapi baru menjadi tabungan rutin bulanan sejak anak usia 3 tahun. Karena biaya yang harus disiapkan itu bukan cuma masuk TK saja, tapi biaya masuk SD di tahun berikutnya lagi. Jadi real-nya kita harus siapkan uang masuk TK dan SD sambil jalan karena hanya selisih 1 tahun.
  3. Mengenalkan anak pada konteks belajar dengan guru
    Meski saat itu anak masih berusia 3,5 tahun, aku cukup penasaran apakah anak bisa menerima sosok Ibu Guru? Bisakah anak mendengarkan dan mengikuti instruksi guru (sosok di luar orang tuanya) untuk melakukan kegiatan tertentu. Jadi saat itu kami daftarkan anak untuk ikut kelas stimulasi sekitar 2x seminggu selama 2 bulan. Dari kelas itulah kami melihat respon anak dalam konteks berkegiatan dengan orang lain. Ternyata anak bisa menerima kehadiran sosok guru tapi masih sulit untuk berpisah dari orang tua. Ditambah lagi anak belum di usia yang tertarik main bersama anak lain.
    Enam bulan sebelum masuk sekolah, beberapa kali aku mengajak anak untuk simulasi dengan main sekolah-sekolahan. Bahkan aku menggunakan baju seperti yang calon gurunya nanti pakai juga di sekolah. Ternyata anak senang sekali main sekolah-sekolahan. Tapi yah tidak berlangsung rutin ujung-ujungnya sering terlewat karena banyak hal. Tapi dengan main sekolah-sekolahan itu, jadi tahu bahwa anak bisa mengikuti instruksi dan jadi tahu anak senang dengan kegiatan belajar yang seperti apa.
  4. Menyiapkan kemandirian anak untuk sekolah
    Mulai dari aktivitas makan sendiri, melepas dan memakai baju sendiri, bisa menggunakan toilet secara mandiri dan membersihkan diri sendiri, menyiapkan barang pribadinya saat pergi dan pulang dari suatu tempat, melepas dan memakai sepatu, dan berpisah dari orang tua. Semua ini harus dicicil jauh sebelum anak masuk sekolah lewat rutinitas sehari-hari.
  5. Memupuk keberanian untuk masuk sekolah
    Sering berkunjung ke sekolah supaya terbiasa melihat calon sekolah, ikut sesi trial class yang diberikan pihak sekolah, berhubung suami memiliki beberapa kenalan orang tua yang sama-sama mendaftarkan anaknya jadi coba pertemukan anak dengan calon temannya. Tak lupa belikan buku hari pertama sekolah sebagai gambaran cerita hari pertama sekolah. Bahkan kami minta kakak sepupunya yang berusia 8 tahun untuk sharing tentang sekolah itu seperti apa (belajar dan bermain dengan guru dan teman-teman itu menyenangkan atau tidak). Terakhir, salah satu bagian paling seru untuk anak-anak adalah momen beli keperluan sekolahnya seperti tas, sepatu, dan botol minum.

Dengan semua persiapan ini, kira-kira bagaimana ya cerita hari pertama sekolah dan kesan anak setelah masuk TK?

baca lebih lanjut -> Hari Pertama Masuk Sekolah dan Adaptasinya

Gita Nadia Parenthood

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *