Positive multiethnic family having fun time together near sofa against bookshelves at home

Marriage isn’t always rainbows and butterflies

Siapa yang gak familiar dengan ungkapan di atas? Sepertinya, sejak sebelum kita menyentuh dunia pernikahan, sudah begitu banyak edukasi pra-nikah yang mengingatkan bahwa dunia pernikahan tidak selalu tentang senang-senangnya. Pasti ada ombak, badai, dan setelah terlewati munculah pelangi. Siapa sangka, selain harus menyiapkan diri menghadapi seluk beluk pernikahan, sebenarnya kita juga harus menyiapkan tenaga, pikiran, dan perasaan yang sama besarnya untuk tugas pengasuhan.

Latar belakang pendidikan Ilmu Psikologi sangat membantuku menghadapi kehidupan rumah tangga. Seperti pengetahuan tentang membina hubungan dalam pernikahan dan juga perkembangan anak. Pengetahuan tersebut jadi modal kami mengenal apa yang mau dituju, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, dan beberapa cara yang bisa diterapkan untuk mencapai tujuan. TAPI setelah menghadapi realita mengasuh, ternyata dinamika pengasuhan jauuh lebih kompleks dan dalam daripada pengetahuan awal yang kumiliki. Sehingga butuh banyak waktu untuk mencerna situasi, mengenal diri sendiri dan pasangan di konteks pengasuhan, dan apa yang harus aku (kami) lakukan untuk menghadapi realita yang menohok ini.

Dalam pernikahan, kita tahu bahwa semakin rendah ekspektasi, maka semakin jarang kita kecewa. Nyatanya, tinggi atau rendahnya ekspektasi yang kita miliki tidak bisa kita pastikan sampai kita mengetahui realita di lapangan. Sudah memiliki ekspektasi yang rendah (menurut kita) pun, ketika kenyataan tidak sesuai bayangan akan tetap kecewa juga. Ya, mungkin kecewanya lebih minim daripada yang berekspektasi tinggi.

Menariknya lagi, ada masanya bahkan kita gak sadar kalau sebenarnya kita punya ekspektasi. Termasuk dalam tugas pengasuhan. Sedikit banyak, tanpa sadar kita memiliki berbagai ekspektasi menjalani tugas pengasuhan. Berekspektasi menjadi orang tua yang seperti apa, sosok anak yang seperti apa, sosok kakek-nenek yang seperti apa, support system yang seperti apa, dan semua ekosistem membesarkan anak. Saat realita berbicara, setiap lembarannya menguak ekspektasi yang sebenarnya kita miliki.

  1. Menjadi orang tua adalah hal yang berjalan dengan alami
    Insting keibuan dan insting sebagai ayah memang muncul secara alami, biasanya dalam bentuk dorongan untuk melindungi. Secara natural, seorang ibu akan menjadi sangat protektif terhadap anak-anaknya, lebih peka terhadap setiap perubahan kondisi anak sekecil apa pun. Insting itulah yang mendorong setiap ibu untuk memastikan kenyamanan dan keamanan anak-anak (mencegah sesuatu yang tidak diinginkan, berusaha merencanakan sesuatu dengan matang, menjauhi tindakan-tindakan berisiko, dst). Lebih mendasar lagi, bahkan ibu yang menjalani kehamilan, melahirkan, dan menyusui saja harus mempelajari semua tahapan tersebut sebagai bagian dari usaha agar diri dan bayinya bisa selamat sampai terlahir ke dunia.
    Tapi pengasuhan anak tidak cukup hanya modal naluri. Nyatanya kita butuh ilmu dan keterampilan.
    – Keterampilan dasar mengurus anak
    – Mendukung, memantau, mengevaluasi tumbuh kembang anak
    – Mendengarkan dan berkomunikasi dengan anak
    – Mendidik anak
    – Membina hubungan dengan anak
    – Mengelola diri dan situasi
    – dst
    Itu semua keahlian yang tidak datang dengan sendirinya. Semua keahlian tersebut harus kita pelajari dan asah berulang-ulang di keseharian bersama anak. Learning by doing yang dimaksud bukan berarti NOL tanpa modal pengetahuan.
    Kita bukan lagi hidup di dunia yang minim informasi. So, please.. jangan normalisasikan hidup dalam keadaan buta. Kita menjadi orang tua nyatanya BUTUH ARAH DAN PANDUAN. Sebab kita orang dewasa, maka kitalah yang bertanggung jawab mencari arah dan panduan itu dengan mempelajarinya.
  2. Anak membawa kebahagiaan setiap harinya
    Tidak sedikit calon orang tua yang berpikir bahwa anak-anak selalu lucu dan menggemaskan. Padahal saat anak menangis, semua orang akan membalikkan badannya lalu menyerahkannya pada orang tua si anak. Nah kini bayangkan, tangis dan semua emosi yang anak miliki adalah kehidupan kita setiap harinya. Kita harus menerima satu paket semua yang kita sukai dan tidak sukai dari anak-anak menjadi 24 jam di bawah tanggung jawab kita.
    Bahkan kalimat “anak memberikan kebahagiaan setiap harinya” saja sudah membingungkan sekali untuk dicerna. Yang rasanya lebih masuk akal dan memang realitanya adalah, anak memberikan warna setiap harinya di rumah dan hidup kita. Dengan semua warna tersebut, rumah menjadi lebih hidup dari yang biasanya hanya ritme datar kehidupan orang dewasa.
    Hidup bersama anak TIDAK hanya memunculkan satu emosi (senang) semata. Nyatanya, ada begitu banyak emosi yang hadir. Bahkan mungkin, akhirnya kita merasakan semua emosi yang ada di dunia ini. Kita terkejut ketika merasakan begitu banyak emosi bersamaan. Bahkan bertolak belakang sekalipun. Pada orang yang sama, kita bisa merasakan senang, sedih, kesal, bangga, kecewa, harap, cinta, dan frustasi.
    Kesalahan berpikir kita ini membuat kita terperangkap dalam rasa bersalah dan menganggap diri sebagai orang tua yang tidak baik hanya karena merasakan emosi negatif terhadap anak sendiri. Padahal nyatanya memang seperti itulah hidup bersama orang lain (anak, pasangan, saudara, orang tua). Tidak mungkin hanya memunculkan satu emosi saja.
  3. Anak butuh orang tua yang bahagia
    Setelah menjalani pengasuhan, kalimat ini terkadang rasanya begitu jauh untuk digapai. Hari-hari yang tidak ada hentinya mengasuh anak seringkali lebih menarik kita ke mode survival. Sulit untuk memikirkan bahagia atau tidaknya, yang penting survive aja dulu deh! Saat kita masih bisa survive saja sudah sangat bersyukur rasanya.
    Nyatanya, anak memang butuh segalanya dari orang tua. Mereka butuh contoh karakter manusia lewat kita, mereka butuh didikan dan arahan kita, mereka melihat seisi dunia lewat diri kita. Bahagia atau tidak, yang menurutku lebih mendasar adalah anak butuh orang tua sebagai manusia yang utuh. Yang punya kelebihan, kekurangan, keterbatasan. Dengan menjadi manusia, kita secara jujur mengenali, mengakui, dan mengelola kelebihan, kekurangan, dan keterbatasan kita itu.
    Faktanya, yang paling sulit dari pengasuhan adalah bukan mendidik anak, tapi mengendalikan diri sendiri di tengah semua huru-hara aktivitas dan tuntutan setiap hari. Mengenali kapan kita mencapai batas sehingga lebih baik berhenti sejenak, bagaimana cara memulihkan diri, kapan kita butuh bantuan orang lain/tenaga profesional. Juga memandang anak dan memperlakukannya sebagai manusia pula. Dimana kita paham anak punya kelebihan, kekurangan, dan keterbatasan, lalu kita bantu mereka mengelola itu juga.
  4. Semakin banyak ilmu yang saya tahu semakin mudah pengasuhan
    BETUL, TAPI sampai pada tahap tertentu. Pengetahuan dasar sangatlah kita butuhkan apalagi bagi orang tua baru. Sungguh sangat memberikan ketenangan untuk pertama kali mengurus bayi. Lalu kita pikir semakin banyak informasi yang kita ketahui, semakin memudahkan proses pengasuhan. Nyatanya banjir informasi lebih banyak membuat kita cemas dan kewalahan.
    Yang lebih melelahkan lagi ketika teori yang disampaikan ternyata tidak semudah itu untuk diterapkan. Lalu kita kembali mempertanyakan diri, apa yang salah dari diri sendiri dan anak. Mengapa sesuatu tidak berjalan dengan seharusnya. Sampai suatu saat sadar bahwa tidak ada rumus pasti dalam gaya pengasuhan. Pada akhirnya kita harus menyaring parenting seperti apa yang sesuai dengan tujuan rumah tangga dan nilai-nilai yang kita miliki.
  5. Kalau saya berusaha maksimal, anak pasti tumbuh sesuai yang seharusnya
    Pikiran, waktu, tenaga, perasaan sudah kita kerahkan semaksimal mungkin untuk mencari ilmu pengasuhan dan menerapkannya di rumah. Saat buntu di satu hal, kita coba cara lain. Sampai terkadang sudah habis akal harus melakukan apa lagi. Setelah semua kerja keras itu, tapi hasil yang muncul tidak juga sesuai yang diharapkan. Ibu frustasi dan anak kelelahan.
    Nyatanya, usaha keras kita bukanlah penentu segalanya. Ada begitu banyak faktor yang berpengaruh hanya pada satu hal dalam diri anak. Ada andil kondisi fisik anak, psikologis anak, lingkungan, situasi dan kondisi yang sedang terjadi, dan begitu banyak faktor lainnya. Usaha maksimal kalau kenyataannya tidak tepat sasaran, hasil tidak akan maksimal juga. Apakah anak memiliki hambatan fisik dan psikologis? Apakah sudah waktunya anak belajar sesuatu? Kalaupun sudah waktunya apakah situasinya kondusif untuk meminta anak berlatih/belajar sesuatu?
    Usaha yang sesuai dengan kondisi anak adalah yang nyatanya sama-sama kita butuhkan. Anak bukan mesin yang diharapkan otomatis bekerja lalu menghasilkan berdasarkan program yang kita masukkan.
  6. Saya akan menjadi orang tua yang sabar sepanjang waktu
    Kita pikir, cinta dan kasih sayang orang tua akan mengalahkan segalanya. Otomatis kita akan sangat bertoleransi pada anak-anak. Itu betul. Cinta kita pada anak menjadikan kitalah orang yang paling sabar dengan anak kita sendiri. Tapi kita juga perlu tahu bahwa nyatanya cinta dan kasih sayang orang tua bisa kalah karena lelah. Bukan cintanya hilang, tapi tertutup oleh rasa lelah sehingga saat itu terjadi, anak terasa seperti beban dan sumber gangguan. Di satu sisi kita sedang menjadi manusia biasa yang kelelahan, di sisi lain kita tersiksa dengan rasa bersalah karena merasakan emosi negatif terhadap anak.
    Anak belum mengerti kondisi orang lain. Anak hanya mampu berpikir dari sisinya dan ingin kebutuhannya terpenuhi. Sehingga saat orang tua kelelahan, sakit, atau kondisi-kondisi berat lainnya, anak akan tetap meminta diperhatikan, dilayani, diladeni, dst. Anak adalah stimulasi yang terus datang tanpa henti bagi orang tua. Saat kelelahan pun, kita tidak dapat berhenti dari anak-anak. Sebagai manusia, adalah wajar kita merasa kelelahan, kewalahan, dan mencapai batas kesabaran.
    Ada hari dimana anak-anak mampu bekerjasama. Ada juga hari anak sulit diajak kerjasama. Bahkan ada fase-fase perkembangan dimana secara khusus mereka menolak secara terus-menerus apa yang datang dari orang tua. Saat-saat seperti itu, tidak jarang pula bertemu dengan orang tua yang sama-sama kehabisan tenaga. Dan itulah semua realita hari-hari kita yang seharusnya lebih kita siapkan dan terima. Saat rasa kewalahan, kelelahan, dan emosi negatif terhadap anak muncul, semua itu adalah hal manusiawi. Artinya kita butuh istirahat dan re-charge energi untuk bisa kembali stabil menjalani hari-hari bersama anak.
  7. Tugas pengasuhan akan lebih ringan jika saya dan pasangan bisa berbagi tugas
    Itu betul. Tapi jangan kaget kalau, sudah dibagi berdua dengan pasangan pun tetap terasa berat. Tetap lelah. Tugas harian mulai dari urusan mandi, makan, berpakaian, tidur, bermain, antar-jemput sekolah, belajar, dst. Tak hanya menemani, tapi juga memberikan stimulasi/mendidik, mengevaluasi tumbuh kembang anak, dst. Bayangkan jika tidak berbagi tugas/tanggungjawab.
    Berbagi tugas pengasuhan juga nyatanya tidak akan bisa selalu 50:50. Bisa saja 60:40 atau 70:30 karena kondisi tiap rumah tangga berbeda-beda. Kita (para ibu) harus siap, bahwa kita yang lebih in-charge dibanding para suami yang sudah menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bekerja. Tidak semua suami memiliki kemewahan waktu yang fleksibel untuk keluarganya. Pembagian tugas pun akan terus berubah seiring situasi dan kondisi yang ada.
    Paling mendasar dan paling bisa dilakukan adalah berbagi tugas fisik dan mental bersama pasangan. Kalau pasangan tidak mampu secara penuh mengemban tugas fisik, maka harus ada kompensasinya melalui pihak lain. Hadirkan pihak-pihak yang mampu membantu prosesnya. Sebab faktanya, mengurus rumah dan anak bukanlah pekerjaan satu orang. Yang paling tidak boleh absen dari pasangan adalah beban mental pengasuhan. Pasangan harus hadir dan terlibat dalam arah pengasuhan anak. Satu-satunya cara berbagi ini adalah dengan mendiskusikannya bersama. Bertukar pikiran, berbagi tugas dalam berpikir, dan mencari jalan.
  8. Kamu tidak sendiri
    Nyatanya, kitalah (terutama para ibu) yang paling tahu seluruh behind the scene pengasuhan kita. Kita yang tahu kondisi rumah tangga, kondisi setiap anak, apa tantangan pengasuhan anak, sudah sejauh apa usaha yang kita lakukan untuk mencapai sesuatu dalam perkembangan anak, dst. Beruntung kalau masih memiliki pasangan yang hadir setiap hari dan aktif terlibat. Kalau pasangan abai dan jauh dari rumah, semua benar-benar dijalani sendirian.
    Tidak semua perempuan punya support system, apalagi yang ideal. Pasangan yang berperan aktif, para kakek-nenek/keluarga yang bisa dipercaya mengasuh, ART, Nanny (tenaga pengasuh), Daycare, dst. Dari support system yang sudah ada pun belum tentu bisa berfungsi maksimal. Misal kita tinggal dekat dengan orang tua, tapi belum tentu para kakek-nenek dalam usia yang prima untuk membantu kita mengasuh. Berapa banyak justru sang istri juga harus mengurusi orang tuanya yang sudah sepuh, sambil mengurus anak, dan rumah?
  9. Aku akan memprioritaskan pasangan
    Setelah menjadi orang tua, semuanya berubah. Diri kita berubah, pasangan kita berubah, prioritas rumah tangga berubah, ritme rumah tangga juga berubah. Berubah dalam arti menyesuaikan peran dan tanggung jawab baru. Saat usia anak masih kecil-kecil yang masih butuh banyak peran orang tua sudah PASTI anak otomatis menjadi pusat dari kehidupan rumah tangga kita. Fokus langsung berubah ke anak. Kenapa? Semata-mata karena tingkat kebergantungan dan tuntutan kebutuhan anak-anak terhadap orang tuanya begitu besar. Bahkan saat sudah kita usahakan maksimal berdua pun, anak-anak akan tetap merasa kurang. Kurang lama bermain bersamanya, kurang puas limpahan perhatiannya. Narasi memprioritaskan pasangan tentu menjadi kondisi ideal yang selalu kita upayakan. Tapi realitanya, banyak hari yang terlewati dengan meminta maaf dan toleransi pada pasangan karena kebutuhannya yang tak sempat kita penuhi. Bahkan untuk diri sendiri saja bisa sangat terabaikan.
    Tetap menjadi seorang istri dan suami ditengah hari-hari menjadi ibu dan ayah adalah perjuangan berpegangan tangan di tengah badai. Ada masa dimana kita bisa kembali pada satu sama lain. Tak jarang pula kita mencari jalan masing-masing untuk mengisi ulang tenaga. Tak semua hubungan semakin kuat dengan adanya anak. Ada juga momennya hubungan kita berantakan karena tuntutan mengurus anak. Boro-boro untuk memperkuat hubungan berdua, memelihara yang ada saja sudah setengah mati. Waktu bebas untuk ngobrol ternyata bukan ditunggu, tapi harus dipaksakan. Karena kalau tidak dipaksakan tidak akan pernah ada. Masa-masa ini adalah masa dimana anak-anak begitu membutuhkan kita. Masa ini butuh saling bantu, saling toleransi, saling memaafkan yang besar. Semoga kita berdua sama-sama bersabar sampai tiba masanya kembali bisa berdua.
  10. Ahli/tenaga profesional selalu punya jawaban dan solusi untuk masalah kita
    Betul. Tapi perlu kita ketahui bahwa tiap ahli/tenaga profesional bisa punya arah/keyakinan yang berbeda dalam mengerjakan tugasnya. Ahli/tenaga profesional pun bukanlah sosok yang sempurna. Sehingga pada akhirnya kita yang harus aktif mencari tahu dan menerima bahwa untuk mencari tenaga profesional yang cocok dengan masalah kita ternyata butuh proses trial error. Penanganan anak akan lebih maksimal ketika akhirnya kita bersama tenaga ahli yang cocok/sejalan dengan yang kita butuhkan.

Dari semua ekspektasi di atas, nomor berapa saja yang sudah ayah-bunda alami? Ya, inilah realita yang kita hadapi dan itu semua adalah nyata. Realita yang sulit untuk dipampangkan secara terang di media sosial, karena bukanlah kondisi ideal dan bisa dengan gamblang kita banggakan. Kondisi yang kita simpan di balik layar bahkan tidak kita bicarakan secara jujur. Mungkin karena banyak air matanya, mungkin karena hilang senyumnya.

Semoga ayah-bunda diberikan kemudahan dan kekuatan menjalani segala realita pengasuhan. Semoga kita berdua bisa saling mempertahankan, menguatkan, memelihara, mendukung, dan menjadi rumah untuk satu sama lain di tengah kewajiban utama kita berdua ini. Semoga para calon orang tua juga bisa menata bayangan dan harapannya. Bersiap diri menerima dan menghadapi situasi yang nyata apa adanya.

We see you, we feel you.. Yasarallah ayah-bunda 🙂

Gita Nadia Parenthood

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *