A woman in a hijab covers her face, depicting emotion on indoor stairs.

Selama 5,5 tahun jadi Ibu yang mengasuh 2 orang anak laki-laki, aku masih sulit untuk bisa terus-menerus dalam kondisi pikiran yang tenang, jernih, lurus, dan suasana hati yang stabil. Mengapa seperti tidak ada satu bulanpun aku berhasil menjadi ibu yang tenang dan stabil selama satu bulan penuh? Berbulan-bulan memperhatikan kondisi diri sendiri, kusimpulkan bahwa hari-hari jernih itu berlangsung kurang lebih 14 hari dalam sebulan. Sisanya suasana hati gampang berubah, pikiran-pikiran negatif lebih sering muncul, lebih mudah terpicu marah, rentan sedih mendalam, sensasi tubuh remuk, dan imunitas menurun. Semua ini semakin memperburuk mood dan emosi yang dirasakan sehari-hari.

Selama itu juga aku merasa bersalah, merasa kalah dengan diri sendiri, mempertanyakan diri sendiri mengapa hari-hari jernih dan tenang itu hanya muncul sekian hari dalam sebulan. Apakah karena aku yang kurang sabar, tidak terlalu bisa mengelola diri, atau apa? Dan apakah ini semua normal? Apakah hari-hari tenang itu bisa diperpanjang? Mungkinkah kita (para ibu) bisa terus stabil selama sebulan penuh, atau bahkan berbulan-bulan?

Semua kekacauan itu hampir selalu muncul setiap bulannya. Sampai suatu saat aku mulai memperhatikan pola ini lalu mendapatkan kesimpulan bahwa, kekacauan/ketidakstabilan yang dirasakan muncul selama 7-14 hari sebelum menstruasi dan hilang begitu saja saat sudah tiba fase haid. Berbeda saat dulu sebelum menikah dan memiliki anak, adanya emosi yang intens menjelang menstruasi (yang aku sadari) hanya sekitar 1-2 hari sebelum haid. Mengapa sekarang terasa lebih intens dan berlangsung jauh lebih lama? Inikah yang disebut pre-menstrual syndrome (PMS)?

Menerima Naik Turunnya Suasana Hati, Energi, dan Konsentrasi

Ternyata Bu, kita harus terima bahwa tubuh kita ini memang melewati badai setiap bulannya. Badai yang seharusnya kita kenali lebih dalam. Untuk apa? Menerimanya dengan tenang tanpa rasa bersalah dan mengelolanya dengan baik. Tentu bukan dijadikan pembenaran untuk melampiaskan semua pergolakan fisik dan emosional dalam fase itu. Salahku adalah, aku tidak memahami siklusku sendiri. Bahkan menuntut diri untuk bisa menjadi orang yang tenang sepanjang waktu. Saat pergolakan itu terjadi, otomatis aku merasa gagal dan menyalahkan diri sendiri. Padahal, perubahan naik turun suasana hati, energi, dan kejernihan berpikir itu adalah kondisi normalnya perempuan. Sehingga menuntut diri sendiri untuk bisa memiliki fisik dan emosional yang stabil sepanjang waktu, adalah hal yang tidak tepat juga.

Tentang Pre-Menstrual Syndrome (PMS)

PMS ini adalah gejala fisik dan psikologis yang umum dialami perempuan sebelum fase menstruasi. Intensitasnya, bisa ringan sampai berat tergantung kondisi masing-masing individu. Perubahan hormon dan kimia di otak pada fase pra-menstruasi membuat suasana hati buruk, mudah tersinggung, cemas, dan sejenisnya. Sebagaimana perubahan hormon juga terjadi saat hamil dan setelah melahirkan. Jadi ini adalah proses yang normal dalam tubuh kita sebagai perempuan.

Selain itu, ringan dan beratnya PMS yang dirasakan juga dipengaruhi berbagai faktor. Mulai dari pola makan, kecukupan tidur, kebugaran fisik, dan kondisi kesehatan mental kita secara umum. Bayangkan jika para ibu mengalami nutrisi yang tidak tercukupi, tidak sempat berolahraga, kurang tidur, dan pada dasarnya kita sedang dalam kondisi depresi, cemas, atau kesehatan mental yang buruk, maka intensitas PMS yang dirasakan bisa jauh lebih besar lagi.

Memasuki usia 30-an, melewati masa hamil, melahirkan, dan menyusui sungguh telah mengubah ritme tubuh kita secara drastis. Tubuh kita di usia ini memang sudah berbeda dibandingkan usia 20-an. Perubahan hormon di usia 30-an biasanya bersifat ringan namun dampaknya tetap dapat dirasakan. Hormon yang mulai fluktuatif di usia ini pada sebagian perempuan memberi dampak gejala PMS yang lebih intens, perubahan pada kulit atau metabolisme tubuh, tantangan kesuburan, kelelahan, atau mood swing yang disebabkan ketidakseimbangan hormon.

Pada tingkat keluhan yang serius seperti tidak mampu beraktivitas, kram perut yang tak tertahankan, sakit kepala yang intens, sulit tidur atau tidur berlebihan, bahkan muncul pikiran atau keinginan bundir, maka segeralah periksakan diri ke dokter ya Bu untuk mendapat pertolongan. Apalagi jika intensitas tinggi/ekstrim ini terjadi secara berulang setiap bulannya. Sebab ada sebagian kecil (3-5%) perempuan yang mengalami hal yang disebut PMDD (Pre Menstrual Dysphoric Disorder). PMDD ini tingkat yang lebih parah daripada PMS.

(Baca selengkapnya tentang PMS di sini dan di sini)

Terus Bagaimana Kita Sebagai Ibu Mengelolanya?

Kebayang gak Bu yang pada dasarnya kita yang punya kecenderungan PMS ini tetap harus menghadapi dinamika hidup bersama anak-anak? Yak, bukan berarti kondisi ini membenarkan kita untuk melampiaskan segalanya. Tapi menjadi catatan bahwa

“Oke, aku sedang tidak dalam kondisi stabil, maka bagaimana caranya fase ini terlewati dengan nyaman dan minim dampak negatif?”

Yuk coba kita kelola kondisinya dengan cara berikut;

  1. Atur Pola Makan: prioritaskan karbohidrat kompleks, protein, dan lemak sehat, hindari makanan cepat saji, hindari gula dan kafein, minum air putih yang cukup, jadikan buah sebagai snack
  2. Sempatkan tidur meski singkat
  3. Kurangi standar mengerjakan sesuatu
  4. Komunikasikan pada pasangan bahwa kita sedang tidak stabil
  5. Minta bantuan lebih jika fisik dan psikologis sedang tidak mampu menghadapi pekerjaan rumah atau tanggung jawab lainnya
  6. Tidak menghakimi atau menekan emosi negatif yang muncul. Terima kemunculannya dan biar terlewati
  7. Lakukan aktivitas-aktivitas yang bisa menjadi penyaluran stres: olahraga ringan

Jadi Bu, di tengah semua badai pikiran dan perasaan kita sehari-hari bersama anak, jangan buru-buru menghakimi diri ya.. Bisa jadi tubuh kita memang sedang menjalani perubahan-perubahannya yang perlu kita perhatikan dan hanya perlu dilewati dengan baik.

Perhatikan juga semua pikiran-pikiran negatif yang mengganggu Ibu selama fase ini. Tidak perlu ditolak, ditekan, atau buru-buru menarik kesimpulan. Coba perhatikan dan lewati dulu fase PMS nya. Kita proses pikiran tersebut setelah ibu sudah di fase energi, mood, dan pikiran kita tenang/jernih.

Gita Nadia Motherhood

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *