Persoalan screen time anak sudah menjadi pembahasan yang tiada habisnya. Dampak screen time pada anak pun sudah jelas dibahas dimana pun. Saya yakin kita semua paham dan sepakat bahwa screen time yang berlebihan pasti membawa banyak dampak buruk. Kami juga sepakat bahwa kondisi ideal anak-anak adalah tanpa interaksi gadget sama sekali (sebagai bentuk hiburan). Itulah impian kita bukan? Saat anak-anak bisa enjoy beraktivitas/bermain apa pun tanpa perlu gadget sebagai pelarian. Kami pun berharap dan berusaha menuju ke arah sana.
Di sisi lain, kenyataannya kami masih membutuhkan screen time anak pada saat tertentu. Saat kondisi tidak kondusif atau ketika kami tidak bisa memberikan pilihan aktivitas lain untuk anak saat itu juga. Batas toleransi kami pada gadget hanyalah aktivitas menonton (tidak boleh main game). Kami juga mengakui, saat kita memberi celah toleransi seperti itulah yang lama-lama akan menjadi bablas (porsi menonton yang menjadi berlebihan).
Adapun dampak screen time yang sudah berlebihan pada anak yang kami alami adalah
- anak cepat bosan
- kami (orang tua dan anak) jadi sering bertengkar persoalan tontonan
- terkadang emosi anak menjadi tidak stabil dan cenderung banyak emosi negatif
- anak terdorong untuk konsumtif karena melihat banyak mainan (contoh saja berbagai model hot wheels) atau tempat menarik untuk dikunjungi dari tontonan
Dampak yang paling terasa tentunya setelah anak masuk sekolah. Berbagai aspek diri anak terdampak dengan nyata. Mulai dari kesulitan fokus, toleransi stres yang cenderung rendah, kegiatan menghafal (aspek memori) menjadi terganggu , dst. Padahal hal-hal tersebut dibutuhkan dalam proses belajar/akademik di sekolah.
Kapan munculnya momen ingin melepaskan anak dari menonton?
Seperti yang sudah kami ceritakan sebelumnya (di sini), momen paling besarnya terjadi setelah wali kelas anak mengingatkan persiapan menuju SD. Yang mana saat itu kami hanya memiliki waktu sekitar 1-2 bulan untuk menyiapkan anak seleksi SD. Mungkin tidak seluruhnya atau sampai sempurna. Setidaknya dalam jangka waktu tersebut sudah ada kondisi yang membaik. Persiapannya akan terus berjalan sampai anak benar-benar masuk SD. Alhamdulillah, sebenarnya anak sudah memiliki banyak kelebihan yang juga menjadi modal untuk menjalani persekolahan. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa anak perlu disiapkan juga untuk menghadapi kegiatan akademik yang berbeda dari TK.
Dalam hal ini, anak membutuhkan persiapan yang cukup menyeluruh. Mulai dari kesiapan fisik, motorik, kognitif, dan emosionalnya untuk beradaptasi dengan ritme baru di SD nanti. Melihat kondisi itulah kami merasa sudah saatnya kami mengusahakan untuk melepaskan anak dari kebiasaan menonton.
Berikut ini yang kami upayakan untuk melepaskan anak dari screen time berlebihan
- Memperbaiki komunikasi dengan pasangan
Inilah hal pertama yang kami lakukan. Kita (suami-istri) harus bersepakat bahwa anak sudah terdampak dan kami harus membantu anak mencapai perkembangan diri yang seharusnya. Kita harus sepakat adanya target di depan mata yang mau kita upayakan. Dengan begitu, kita sebagai orang tua tidak bermudah-mudah memberikan/membolehkan anak untuk menonton. Juga harus siap memberikan kegiatan alternatif dari menonton. Harus siap menemani anak atau juga membiarkan anak melewati kebosanannya lalu berinisiatif main secara mandiri. - Mengurangi secara bertahap waktu menonton
Segala sesuatu yang sudah memiliki porsi besar tentu tidak bisa diputus tiba-tiba. Maka kami mulai menerapkan pengurangan waktu menonton secara bertahap. Mulai dari jumlah waktu, momen apa saja anak boleh menonton, lalu berangsur menjadi pengurangan jumlah hari boleh menonton. - Hilangkan akses terhadap tontonan
Karena anak di rumah nonton melalui tv, kami memutuskan untuk MENYIMPAN REMOTE TV. Tentu saja anak mencarinya kemana-mana. Juga menanyakannya secara berulang-ulang. Kini anak tahu bahwa remote tv ada dalam kendali kami. Ia tidak boleh lagi memegang remote. Kami yang menghidupkan, memilihkan tontonan, lalu mematikannya. Setiap selesai jatah menonton, remote kami pindahkan secara terus-menerus tempat penyimpanannya sampai kami sendiri pun lupa dimana terakhir menyimpannya. Simpan di tempat-tempat yang tidak biasa. Sehingga kita memang akan lupa kalau kita menyimpan sesuatu di sana. Jadi saat anak bertanya, kami tidak berbohong bahwa kami lupa. Karena kenyataannya kami memang lupa letaknya dimana hahaha. Saat remote tv sudah tidak bisa diakses, tidak ada pilihan lain selain mencari kegiatan lain - Membiarkan anak bosan dan berinisiatif main menggunakan mainan yang ada
Kegiatan yang paling bisa menarik minat anak saat itu adalah mewarnai, bermain play dough/lilin, dan membiarkannya membongkar mainan-mainan lama yang ia miliki. Anak menemukan kembali mainan-mainan lamanya dan mencoba memainkannya. Kehadiran adik yang sudah bisa diajak main juga menjadi salah satu distraksi dari menonton. Anak semakin terbiasa main secara mandiri ataupun main dengan adik. Perlahan tapi pasti, anak mulai menunjukkan permainan yang seharusnya ia mainkan di usianya yaitu semakin sering muncul bermain peran dan bermain secara imajinatif terhadap suatu benda. - Memberikan pilihan lain bahwa ia hanya boleh beli buku baru, tidak boleh beli mainan
Saat itu pihak sekolah juga memberikan seminar pengasuhan tentang pentingnya membaca. Di sekolah pun, anak-anak sering diceritakan buku dengan berbagai tema. Dari sana kami punya alasan untuk mengajak anak lebih giat membaca. Kami tidak lagi membolehkan anak membeli mainan. Yang boleh dibeli hanya buku. Ternyata ia pun senang dengan pilihan itu. Mungkin karena saat ini anak dibolehkan memilih buku yang ingin dibeli. Karena sejak dulu, kalau soal buku pasti saya sebagai ibunya yang memilihkan. Yah, meski sebenarnya harga buku anak lebih mahal daripada mainan, tapi mau tidak mau kami harus memberikan stimulasi tersebut. Dan soal mainan, anak-anak masih tetap mendapatkan berbagai mainan dari keluarga yang memberikan hadiah (para om, tante, nenek, dan sepupunya). - Memberitahu guru bahwa kami dalam upaya menghentikan kebiasaan anak menonton dan meminta guru untuk terus memuji kemajuan anak setiap harinya saat berhasil tidak menonton
Di sekolah anak, orang tua diberikan media berupa buku komunikasi untuk memberikan informasi apa pun kepada para guru mengenai kondisi anak. Di sanalah kami memberitahukan bahwa kami sedang berusaha menghentikan kebiasaan anak menonton. Kami juga meminta guru memuji progres anak yang berhasil untuk tidak menonton. Kami juga kabarkan setiap hari sudah berapa lama total anak tidak menonton tv. Anak jadi tahu bahwa aktivitas nonton atau tidak nontonnya juga diketahui oleh guru di sekolah. - Mengajak anak bermain atau beraktivitas (mewarnai, membaca, main peran)
Memang tidak setiap saat, tapi kita harus menerima konsekuensi bahwa anak terus minta didampingi dan ditemani saat bermain. Sisihkan waktu untuk main bersama. Kalau rasanya lelah, bisa pilih kegiatan yang tidak banyak bergerak seperti mewarnai, membaca, atau menyusun lego. Alhamdulillah suami juga selalu berusaha meluangkan waktu untuk berjalan-jalan bersama anak. Misal jalan-jalan naik motor untuk beli buah, susu, cemilan, atau mencari sarapan. Atau kami memang sempatkan saja pergi bersama keluar rumah dengan berbagai agenda, entah belanja bulanan, makan di luar, atau hal lain. Siapa sih yang menolak jalan-jalan?
Apakah anak benar-benar sudah steril dari menonton tv?
Tidak sepenuhnya. Sesekali anak masih nonton tv terutama ketika di rumah neneknya atau sedang libur sekolah. Terkadang momen-momen tertentu yang benar-benar terdesak atau situasi tidak kondusif, kami bolehkan sebentar. Tapi hasil yang alhamdulillah sudah tampak adalah, anak bisa beraktivitas tanpa menonton tv. Kadang saat ia sedang tertarik pada suatu permainan dan tv menyala pun ia tetap bisa asyik dengan permainannya. Anak sudah tidak bergantung dan bisa merasakan rasa senang dari hal lain selain tv. Meskipun tentu saja terkadang anak masih mencoba-coba menego untuk dibolehkan menonton. Tapi kalau kita juga kekeuh untuk tidak memberikan, pada akhirnya mereka juga pasrah. Semoga usaha-usaha ini dapat terus kami pertahankan agar tidak kembali ke pola yang lama.
Dampaknya?
Selain melepaskan aktivitas menonton yang berlebih, kegiatan di sekolah setiap harinya adalah stimulasi paling baik bagi anak. Kami juga berusaha bantu anak mencapai perkembangannya melalui Terapi Sensori Integrasi. Sehingga secara keseluruhan sebenarnya aktivitas anak sudah lumayan terisi dengan sendirinya. Alhamdulillah, biidznillah dalam jangka waktu tiga bulan dampak dan progres-progres positif mulai terlihat. Fokus anak mulai membaik, bermain imajinatif lebih muncul, bisa lebih betah saat main sendiri atau bersama adik, bermain peran lebih muncul secara natural, punya inisiatif membuka buku-buku, belajar menulis, kegiatan menghafal doa/hadist menempel lebih cepat dari sebelumnya.
Pada pembagian laporan perkembangan selanjutnya, guru menyampaikan banyak progres positif anak yang terlihat di sekolah. Di rumah pun saat sedang bermain lego, anak sudah bisa menahan stresnya lebih lama dan menyelesaikan kegiatan menyusun lego sampai selesai. Berkali-kali ia frustasi saat menyusunnya. Kami pun bilang tidak apa-apa kalau mau istirahat dulu, tidak perlu dipaksakan. Tapi ia menolak berhenti sampai akhirnya menyelesaikan lego yang disusunnya. Masyaallah kami tidak menyangka bahwa anak akhirnya bisa sampai di tahap ini.
Oia, perlu kita ingat lagi kalau setiap keluarga pasti berbeda. Ayah-bunda lah orang yang paling mengerti kondisi anak dan rumah tangga masing-masing. Saat ayah-bunda sudah sepakat untuk menghentikan screen time anak, silahkan ayah-bunda sepakati cara mana saja yang paling cocok untuk anak dan ayah-bunda. Setiap pilihan pasti ada konsekuensinya. Pasti ada hal yang harus diubah demi tujuan kita tercapai. Jadi selamat berdiskusi ya ayah-bunda. Semoga Allah mudahkan segala upaya ayah-bunda yang lagi berusaha melepaskan anak dari screen time berlebihan. Boleh banget loh kalau mau share versi ayah-bunda di rumah supaya kita punya bank ide cara yang lebih sesuai untuk keluarga masing-masing.
Yasarallah, barakallahu fiikum ayah-bunda!