Setelah anak menjalani kegiatan TK-nya selama tiga bulan pertama, selama itu juga kami hanya memiliki satu target. Yaitu anak mampu beradaptasi dengan kegiatan sekolah dan teman-temannya. Saat di rumah pun kami cukup membebaskan anak. Kami berusaha menjadi pendengar cerita anak tentang sekolahnya. Sesekali memberi arahan untuk memahami bermain dan belajar bersama guru dan teman. Tak ada “PR” yang kami push di rumah, misal menuntut hafalan surat pendek, hadits, doa-doa harian, atau target membaca iqro. Kami biarkan anak menyerap dulu saja apa yang dibiasakan di sekolah. Saat anak berinisiatif murojaah, kami juga ikut murojaah dan sesekali bantu koreksi. Bukan menjadi sebuah sesi khusus lah intinya. Di rumah pun, saat itu kami masih membolehkan anak menonton tv.
Saat pembagian laporan perkembangan (pertengahan semester) tiba, di momen itulah wali kelas anak mengingatkan banyak hal tentang perkembangan anak. Terutama yang berkaitan dengan kesiapan menuju SD. Di satu sisi alhamdulillah anak sudah mencapai beberapa aspek dengan sangat baik. Seperti;
- kemampuan komunikasi dengan teman maupun dengan guru
- membaca (tahap awal)
- kemandirian mengurus barang pribadi, ke toilet, mengenakan baju dan sepatu sendiri, dst
- bermain dengan teman
- mengelola rasa tidak nyamannya di sekolah
- semangat dan minat tinggi untuk setiap kegiatan di sekolah
Di sisi lain, kami sadar anak masih memiliki kesulitan dalam beberapa hal, seperti:
- Masih kesulitan untuk duduk dengan tenang di atas kursi: Kaki dan badannya terus bergerak meski duduk di atas kursi
- Rentang fokus anak yang masih berkisar 10 menit (sedangkan nanti di tingkat SD diharapkan bisa 20 menit)
- Anak juga terlihat cepat bosan. Sehingga apa yang ia kerjakan terkadang tidak selesai, atau ingin segera beralih ke aktivitas lain ketika suatu aktivitas ia rasa sulit
- Aspek memori anak yang masih perlu ditingkatkan (surat pendek yang tertukar, atau huruf-huruf hijaiyah yang tertukar saat membaca iqro, dst)
- Keterampilan menulis yang masih harus diasah
Tak bisa dipungkiri lima hal di atas termasuk modal penting untuk menempuh proses belajar di tingkat SD. Setelah hari pembagian laporan perkembangan tersebut, kami berdua (suami-istri) mendiskusikan banyak hal ke depannya. Meskipun anak baru saja beradaptasi dengan kehidupan TK, mau tidak mau kami harus beri perhatian pada momen seleksi SD yang akan tiba. Kami butuh kerjasama anak dan juga metode yang sesuai dengan anak agar ia mau atau termotivasi untuk berlatih banyak hal. Mengingat urgensi terdekat hanya berselang 1-2 bulan, artinya kami harus memilih PR mana yang jadi prioritas untuk ditangani. Setidaknya ada hal yang mulai membaik dalam jangka waktu 1-2 bulan ke depan.
Berikut beberapa hal yang kami upayakan untuk perbaikan perkembangan anak
- Menghentikan kebiasaan anak menonton tv: karena hambatan fokus, memori, dan toleransi stres anak kami rasa bersumber dari screen time-nya yang lumayan banyak
- Membawa anak ke klinik tumbuh kembang untuk meminta saran ahli
- Mengganti kegiatan anak dengan membaca buku, main peran, membiarkan ia bermain dengan imajinasi, mewarnai, mengusahakan kegiatan fisik
- Sesekali bermain kartu memori atau flashcard (bersama ayahnya) untuk meningkatkan memori anak
Contoh bedanya dunia TK dan SD
Kalau kita pikir-pikir lagi, transisi TK-SD bukanlah tahapan yang bisa dianggap mudah begitu saja. Dulu kita pikir semua permasalahan anak saat memasuki dunia SD adalah hal yang wajar terjadi. Sesuatu yang kita anggap bisa selesai dengan sendirinya seiring berjalannya waktu. Ternyata kesulitan yang anak rasakan adalah tanda belum siapnya anak pada hal tertentu. Kondisi yang sebenarnya bisa kita persiapkan dan bantu jauh-jauh hari.
Saat masih TK, anak punya kebutuhan bergerak yang tinggi. Bahkan ruang kelas TK anak kami saat ini diatur tanpa kursi. Anak-anak duduk melingkar di lantai untuk mengakomodir kebebasan bergeraknya. Sehingga di SD nantilah anak baru merasakan setting kelas dengan posisi duduk di kursi dan meja belajar dalam waktu yang lama. Kebayang dong tantangannya untuk anak yang belum siap untuk duduk tenang?
Saat SD nanti jugalah anak merasakan aktivitas akademik yang lebih serius. Seperti kegiatan menulis, membaca, fokus mendengarkan guru di depan kelas, dan jenis pelajaran serta aktivitas belajar yang lebih beragam. Di SD nantilah anak bertemu dengan anak lainnya dengan lintas usia yang lebih beragam, jumlah siswa yang jauh lebih banyak daripada TK, mengenal adanya bapak guru (karena di TK hanya ada ibu guru), dan perbedaan situasi kondisi lainnya. Jadi, transisi anak ke semua kondisi inilah perlu kita bantu siapkan jauh-jauh hari.
Singkat cerita..
Berdasarkan hasil rekomendasi klinik tumbuh kembang yang kami datangi, kami sepakat agar anak mengikuti terapi sensori integrasi sebanyak dua kali dalam seminggu. Anak akan dilatih/distimulasi melalui berbagai aktivitas yang membutuhkan kerjasama aspek sensori (sentuhan, pendengaran, penglihatan, keseimbangan tubuh, kesadaran tubuh, dll). Kegiatan sensori integrasi yang akan dilakukan berfokus pada lima kesulitan yang anak rasakan dalam rangka menuju sekolah dasar. Harapannya anak dapat lebih tenang dalam beraktivitas, rentang fokus meningkat, toleransi stres yang meningkat, bisa fokus secara auditori ataupun visual, serta keterampilan motorik kasar dan halus yang juga meningkat. Menariknya, semua dilakukan dengan bermain.
Jenis aktivitas yang diberikan dalam terapi sensori integrasi disusun berdasarkan kebutuhan masing-masing anak. Setiap pertemuan, tingkat kesulitan tugas/aktivitas selalu ditingkatkan untuk melatih toleransi stres dan fokus anak. Kami sebagai orang tua yang memperhatikan kegiatan demi kegiatan yang diberikan pada anak mengakui bahwa aktivitasnya memang menantang, tapi semuanya menyenangkan. Setiap pertemuan hadir dengan kegiatan yang berbeda-beda. Sehingga anak tidak bosan, justru penasaran akan bermain apa hari ini.
Anak diberi rintangan terlebih dahulu sebelum berlatih menulis
Usia anak yang sudah menginjak 5 tahun, kami rasa menjadi masa yang tepat untuk menjalani kegiatan ini . Anak sudah dapat berkomunikasi dengan baik, minim tantrum, dapat mengikuti instruksi dari guru, memiliki minat tinggi untuk berbagai aktivitas baik motorik kasar, halus, menulis, membaca, mengingat, dst. Jadi proses terapi/stimulasi alhamdulillah berjalan dengan minim hambatan. Anak senang bahkan tidak sabar menunggu sesi selanjutnya. Bagi anak ini hanya bermain, padahal ia sedang berlatih banyak hal. Oia, respon setiap anak terhadap sesuatu pasti berbeda-beda ya ayah-bunda. Ada anak yang bisa cepat adaptasi dengan kegiatan sensori integrasi, ada juga yang butuh waktu. Semua akan kembali ke kondisi anak kita masing-masing.
Setelah terapi sensori integrasi berjalan sekitar tiga bulan, progres anak mulai terlihat. Anak mulai terlihat lebih tenang untuk duduk di atas kursi, rentang fokus sudah mulai bertambah, keterampilan motorik kasar dan halusnya semakin terasah, dan keseimbangan tubuhnya juga meningkat. Untuk aspek memori, masih perlu ditingkatkan dengan pengulangan atau pembiasaan secara terus-menerus. Kami pribadi ingin melanjutkan kegiatan ini sampai anak menginjak kelas 1 SD. Masih ada banyak waktu untuk menyiapkan anak sampai hari itu tiba. Terapi sensori integrasi ini sangat cocok untuk anak laki-laki kami yang membutuhkan gerak, variasi kegiatan, dan tantangan dalam mengerjakan sesuatu. Suatu hal yang di luar kapasitas kami untuk mengarahkannya secara terstruktur.
Kami juga sangat bersyukur dengan dukungan sekolah. Mulai dari laporan perkembangan anak sampai seminar pengasuhan orang tua tentang mempersiapkan anak masuk SD. Melalui seminar pengasuhan itulah kami sebagai orang tua menjadi semakin yakin bahwa kami harus secepatnya mengambil banyak keputusan untuk mendukung perkembangan anak. Semakin siap fisik, motorik, kognitif, dan emosional anak untuk menjalani dunia baru, harapannya akan lebih mudah masa adaptasi anak di tahap selanjutnya. Lebih utamanya lagi, kami berharap anak dapat menjalani proses belajarnya dengan nyaman. Saat semua instrumen pendukung dirinya siap, insyaallah peforma belajar anak akan mengikuti dengan sendirinya.

Setiap anak pasti punya kondisi atau tantangannya masing-masing selama menjalani masa TK. Yang artinya tantangan tersebutlah yang perlu kita perhatikan dan persiapkan untuk memasuki dunia SD. Apakah anak masih kesulitan dengan lingkungan baru, berteman, aspek kemandirian, berkomunikasi dengan teman atau guru, atau mungkin di aspek lainnya. Yuk ayah-bunda kenali lagi apa saja kira-kira tantangan yang anak kita hadapi di masa TK-nya. Yuk kita persiapkan jauh-jauh hari supaya anak bisa lebih nyaman menjalani transisi menuju sekolah dasar nantinya.
Dari pengalaman ini kami belajar bahwa kita sebagai orang tua tidak selalu bisa melakukan semuanya. Kita perlu sadari dimana keterbatasan kita sebagai orang tua. Saat anak memerlukan bantuan di luar kapasitas diri kita untuk memenuhinya, itulah saatnya kita mencari pertolongan. Carilah bantuan dari ahlinya. Kita tidak diminta menjadi orang tua sempurna yang mampu melakuan segalanya. Tugas kita adalah memastikan hak anak terpenuhi. Baik dipenuhi oleh kita secara langsung ataupun melalui bantuan orang lain.
Yasarallah ayah bunda 🙂