
Di cerita sebelumnya, kami udah berbagi cerita persiapan masuk sekolah (TK) yang kami upayakan secara bertahap dari jauh-jauh hari. Sebagai orang tua, kami juga penasaran dan memiliki harapan yang lumayan tinggi untuk momen yang akhirnya datang ini.
Awalnya kami pikir akan berjalan mulus.. Ternyata..
Di luar dugaan, anak menangis keras mengatakan ia tidak ingin berangkat ke sekolah. Besar kemungkinan karena anak cemas harus berpisah dari orang tua dan harus beraktivitas bersama orang lain. Inilah lingkungan asing pertama yang harus anak hadapi benar-benar tanpa orang yang ia kenal. Rasa cemas dan takut itu benar-benar jelas di wajahnya. Meski sudah kami jelaskan ini dan itu, anak tetap fokus pada rasa cemas dan takutnya.
Perasaanku campur aduk. Di satu sisi, ketakutan yang anak rasakan adalah hal yang wajar. Mengingat sepanjang usianya, anak hampir tidak pernah ditinggal bersama orang asing. Pasti selalu bersama orang tua atau keluarga terdekat. Di sisi lain, kami sebagai orang tua merasa sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyiapkan hari pertama sekolahnya. Bukankah wajar kalau kami pun sangat berharap semua usaha tersebut menunjukan hasilnya di momen yang akhirnya datang ini?
Momen pagi itu sungguh krusial. Bagi kami, datang ke sekolah adalah satu-satunya pilihan. Kami lebih memilih anak sedikit terlambat di hari itu dibanding tidak datang sama sekali. Selama satu minggu pertama persekolahan (masa MPLS), anak sekolah dari jam 07.30-10.00 WIB. Durasi yang masih sangat bisa ditoleransi. Karena dulu saat anak ikut kelas stimulasi pun kelasnya berlangsung dengan durasi yang sama.
Sekitar 10-15 menit anak masih terus menangis. Tidak ada tanda-tanda tangisnya akan mereda, sedangkan kami sudah harus berangkat. Hufft… yasudah, inilah yang kami coba upayakan:
- Beri arahan dan batasan dengan tenang
Pada awalnya kami beri anak waktu untuk menangis. Mendekati waktu harus benar-benar berangkat, ternyata tangisnya belum berhenti juga. Akhirnya, kami papah dari rumah ke luar untuk duduk di atas motor. Anak tetap menangis, cemas, dan takut. Tapi melihat kedua orang tuanya sudah siap berangkat, sepertinya anak tidak punya pilihan lain selain ikut naik ke motor. Sebelum jalan, anak meminta untuk duduk di tengah (di antara aku dan suami). Kami bolehkan. Aku coba peluk dan usap-usap badannya sepanjang jalan agar bisa membantu menenangkannya. - Jaga situasi tetap kondusif, jangan tularkan kecemasan dan rasa sedih
Sesampainya di sekolah, anak kami akhirnya melihat banyak anak-anak lainnya menggunakan seragam yang sama. Sama-sama diantar orang tua untuk sekolah. Alhamdulillah, hari itu terbilang kondusif sekali. Beberapa anak ada yang menangis, tapi mereka menangis perlahan. Bukan menangis kencang, berteriak, atau berusaha kabur mencari orang tua. Situasi kondusif itu aku rasa membantu anak lainnya untuk ikut kondusif juga. Salah satunya anak kami. Ia masih terlihat diam karena bingung dan cemas. Tapi sepertinya sudah pasrah untuk mengikuti kegiatan hari itu. Kami antarkan sampai bertemu guru, beri semangat dan dukungan, dan berusaha tetap terlihat oleh anak sampai ia masuk ke kelasnya dan mulai kegiatan. Sebagai ibu, aku berusaha sekali menahan wajah cemas dan sedih. Untungnya air mata ini menetesnya saat anak sudah masuk ke kelasnya. Bukan saat ia tantrum ataupun di perjalanan. - Tetapkan pencapaian/goals yang realistis sesuai kondisi anak di hari itu
Berhasil sampai ke sekolah, anak tidak menangis histeris di sekolah, tidak berontak, tidak putar balik meninggalkan sekolah bagiku sudah sebuah pencapaian. Apalagi jika anak bisa dan mau menyelesaikan kegiatan hari itu sampai selesai. Alhamdulillah, berarti anak mau berusaha untuk mengikuti alur yang diberikan. Tak ku sangka ternyata inilah ukuran kesuksesan hari pertama sekolah anakku, datang dan selesaikan. Dan kami merasa cukup dengan itu. - Beri apresiasi/pujian atas usaha anak
Sampai hari ke-3 ternyata anak masih suka tiba-tiba sedih di sekolah. Tapi cuma menangis sebentar saja katanya. Kami terus memujinya karena bisa menyelesaikan kegiatan sekolah hari itu meski ia sedih. - Jaga rasa aman anak di awal adaptasi
Masuk minggu ke-2, anak sudah mulai memiliki teman main yang cocok. Ia sudah mengerti alur kegiatan sekolah mulai dari datang sampai pulang. Saat mengantar anak, kami bantu antar sampai batas area yang anak nyaman dan sekolah bolehkan. Perlahan-lahan mulai mundur sampai ke gerbang sekolah. Kami pun usahakan selalu datang awal saat menjemput, supaya anak tidak cemas menunggu. Menjaga agar anak merasa aman karena tahu bahwa orang tuanya sudah menunggu di depan sekolah.

Saat awal-awal masuk sekolah, aku masih penasaran dan masih sering bertanya tentang harinya. Tapi setelah itu mulai aku coba kurangi dengan lebih bertanya apakah anak lelah hari ini? mau makan siang apa di rumah? mau main atau tidur dulu setelah pulang sekolah? Buku komunikasi yang diberikan sekolah cukup memberikan gambaran apa yang anak mainkan dan pelajari di sekolah hari ini.
Masuk minggu ke-3 anak sudah dengan sendirinya langsung bercerita di sekolah ngapain saja. Main apa, belajar apa, makan apa. Tepat satu bulan kemudian, bahkan anak sudah tidak mau orang tuanya masuk mengantar ke area sekolah. Cukup sampai di gerbang saja, bahkan anak sudah tidak mengengok lagi ke belakang mencari keberadaan orang tua. Alhamdulillah anak menemukan kebahagiaan dalam aktivitas sekolahnya. Sebagai ibu, aku pun lega sekali.
Pada akhirnya tugas kita menyiapkan anak dengan maksimal. Seperti apa respon yang muncul terutama di hari-H, harus bersiap saja. Apalagi momen-momen krusial yang kita tahu situasinya bukanlah hal mudah untuk anak. Anak bukan berniat berontak atau melakukan penolakan, ia hanya butuh penguatan. Maka berilah arahan dan batasan dengan tenang. Tetap berempati dan belas kasih pada anak. Meski sudah disiapkan pun, ternyata anak tetap cemas. Apa kabar kalau tidak disiapkan?
Setiap anak punya prosesnya masing-masing. Ada anak yang sudah biasa berpisah dari orang tuanya, ada juga anak yang belum biasa berpisah dari orang tua. Ada anak yang sudah langsung nyaman di hari pertama, ada anak yang nyaman di hari-hari atau bahkan minggu berikutnya. Itu semua hanya proses.
Selamat menyiapkan anak menuju dunia sekolah untuk ayah dan bunda 🙂
Selamat menguatkan anak di hari-hari pertama sekolahnya 🙂