
Salah satu hal yang sangat sulit aku bayangkan sebelum punya anak adalah, bagaimana caranya bisa sabar sama anak-anak? Karena aku tidak terbiasa dengan anak-anak, bahkan cenderung tidak peduli. Sedangkan kita tahu anak-anak sering menangis, mengulang-ulang sesuatu yang sama, bisa tiba-tiba punya ide ajaib dan mengikuti apa pun ide yang muncul di kepalanya, senang pegang-pegang segala benda, memanjat semua yang bisa dipanjat, dan sebagainya. Bagaimana caranya bisa oke dengan itu semua?
Sabar itu yang Kayak Gimana?
Sebenarnya apa sih yang dimaksud menjadi orang tua yang sabar? Apakah artinya orang tua yang tidak pernah marah? Apakah artinya jadi orang tua tidak boleh marah? Tadinya aku pun berpikir seperti itu. Sampai setelah mengasuh anak yang demikian kompleks dan melelahkan, aku selalu merasa gagal karena masih saja menjadi ibu yang kerap marah. Tapi apakah aku “se-gagal itu” untuk jadi orang tua yang sabar?
Betul adanya orang tua yang super lapang dadanya dan tidak pernah marah kepada anaknya. Betapa kita harus belajar dari para orang tua yang mampu melakukannya. Tapi apakah berarti orang tua yang masih kelepasan marah berarti bukanlah orang tua yang gak sabaran? Melalui perjalanan pegasuhan, aku baru menyadari persoalan sabar ini ternyata bukan cuma “tidak cepat/tidak mudah marah” akan sesuatu. Gak sebatas permukaan (yang terlihat) itu saja. Jadi apa di balik tidak mudah marah itu? Harusnya seperti apa? Bagaimana caranya?

Pelan-pelan dijalani, aku sampai pada kesimpulan bahwa ternyata kesabaran dalam pengasuhan itu hasil dari sebuah proses panjang. Kita gak bisa sampai ke sana kalau bahkan kita tidak tahu ada rangkaian usaha yang harus kita lakukan untuk sampai ke sana. Sabar yang dimaksud dalam pengasuhan adalah mampu mengelola setiap situasi bersama anak dengan tenang dan terkendali (untuk mencapai tujuan yang diinginkan).
- Mampu mengelola: artinya kita harus punya skill tertentu (membaca situasi, memahami kebutuhan, negosiasi, pemecahan masalah, mengukur prioritas berdasarkan tujuan), punya pengetahuan tertentu tentang apa, siapa, kenapa, bagaimana mengelola sesuatu
- Setiap situasi: baik situasi normal sehari-hari, momen khusus, ataupun situasi sulit bersama anak
- Dengan tenang dan terkendali: memberikan respon emosi dan tindakan yang tepat dari sebuah situasi, tidak cepat marah, frustasi, atau melakukan tindakan yang terburu-buru/tidak berpikir panjang dalam merespon situasi bersama anak
- Untuk mencapai tujuan yang diinginkan: Ya, sadar atau tidak, setiap waktu/tahap/momen bersama anak kapanpun dan dimanapun itu ada tujuan yang ingin kita capai
Kalau kita mampu memenuhi semua aspek itu, itulah sabar. Susah banget ya Allah ya Rabbi :’)
Sabar adalah tentang pengendalian diri dan pengelolaan situasi. Ya, segala situasi bersama anak dimanapun dan kapanpun. Sabar bukan berarti meniadakan emosi (negatif terutama) kita sebagai orang tua. Atas nama sabar, bukan berarti kita tidak boleh/pantas merasa sedih, kesal, kecewa, khawatir, lelah, buntu, bosan, marah, dst. Apa yang kita rasakan tetaplah bagian dari situasi yang ada, tapi yang perlu diatur adalah apa yang keluar dari diri kita dalam situasi tersebut.
(untuk contoh situasinya nanti aku jelasin di Bagian 2 ya)
Kita Pikir, Kita Tidak Bisa Sabar
Terkadang kitanya sendiri yang memberikan cap ke diri bahwa kita bukan orang yang sabar, orang yang tidak bisa sabar. Cap yang kita berikan tanpa kita renungkan dulu apa iya kita orang yang gak (bisa) sabar? Pernahkah kita telisik lagi, biasanya atau sebenarnya kita gak bisa sabar dalam hal apa? Gelisah dan kesal menunggu orang yang terlambat, jenuh dan kesal menunggu antrian yang lama atau kemacetan, kesal dengan urusan yang tertunda, kesal ketika seseorang melakukan kesalahan saat melayani kita, atau kesal, marah, sedih jika hak tidak didapatkan, perlakuan yang tidak baik, kondisi sulit atau terbatas.

Selagi itu semua muncul dalam bentuk tindakan masih berusaha tenang, menyampaikan sesuatu dengan cara yang baik, mengikuti prosedur/aturan yang berlaku, meski ditambah sedikit mengomel/gerutu, bukankah itu semua masih kondisi yang normal? Bahkan berarti kita orang yang cukup sabar untuk itu semua. Menjadi sempurna ketika kita tidak kesal, bahkan tidak ada omelan yang keluar. Beda cerita jika respon yang muncul adalah bentuk langsung membentak orang lain dengan amarah yang meledak, melempar/merusak barang, berkata kasar, memukul, menendang, berteriak. Itu bukanlah hal yang wajar, dan justru jadi tanda mungkin adanya masalah kesehatan mental (gangguan kecemasan, perilaku, dll). Kalau memang reaksi kita seperti itu, sebaiknya segera konsultasikan dengan psikolog atau psikiater supaya dapat penanganan yang lebih baik.
Bentuk ketidaksabaran gak hanya tentang ekspresi marah-marah, tapi juga terburu-buru mengambil keputusan tanpa berpikir panjang atau mengambil jalan pintas untuk menyelesaikan masalah bersama anak. Lalu apakah menjadi orang tua artinya kita harus selalu tenang dan terkendali 24 jam dimanapun dan kapanpun? Ya, itulah harapannya. Bahkan idealnya, tenang dan terkendali adalah bagian dari karakter kita sehingga hal itu bukan menjadi pekerjaan yang berat lagi. Ini kita cerita idealnya dulu karena tujuan/cita-cita itu kan harus jelas. Perkara kapan dan bagaimana kita sampai ke sana, itu dinamika masing-masing orang.
Nah sekarang bahas alam kenyataannya. Bukan kita orang yang gak sabar sama sekali, tapi bisa jadi sebenarnya kita itu sabar di beberapa momen dan ternyata masih kurang di momen lainnya. Ya gapapa. Kuncinya harus S-A-D-A-R dulu dimana kita sudah oke dan dimana yang masih belum. Latihan terus sampai handal bersama anak-anak dalam segala situasi. Sampai kapan? Sampai kita mati. Karena anak-anak terus bertumbuh. Di setiap tahapan hidup mereka segalanya terus berubah. Kita harus terus menyesuaikan.
Tidak Punya Pengetahuan yang Cukup tentang Bayi dan Anak-Anak
Terkadang cap tidak bisa sabar itu sebenarnya datang dari rasa khawatir, takut, bingung tidak tahu apa yang akan terjadi dan harus melakukan apa. Yang akarnya adalah minimnya pengetahuan kita tentang bayi dan anak-anak. Terlebih lagi jika kita gak bersentuhan langsung sehari-hari dengan bayi dan anak-anak. Faktanya, bayi dan anak-anak TIDAK SE-RANDOM ITU. Bayi dan anak-anak adalah makhluk yang bisa dipelajari. Kita sebagai orang dewasalah yang wajib mempelajari mereka. Pelajarilah bayi dan anak-anak sesuai usia mereka. Apa yang berkembang di usia tersebut, biasanya muncul dalam perilaku seperti apa, tujuannya apa, dan apa hasil yang diharapkan. Pelajari mana yang normal/tidak normal wajar/tidak wajar pada setiap tahapan perkembangan bayi dan anak-anak. Persiapkan diri kita (dengan ilmu) dan evaluasilah mereka berdasarkan tiap tahapannya. Bukan berdasarkan asumsi kita atau ukuran-ukuran orang dewasa. Karena bayi dan anak-anak bukanlah orang dewasa.
Pertalian Darah Membuat Toleransi Kita Lebih Tinggi
Kalau kamu merasa gak cocok atau gak suka dengan anak orang lain, ya wajar saja. Sebab setiap keluarga pasti punya pola hidup, gaya hubungan, dan nilai-nilai yang berbeda. Belum lagi anak adalah hasil dari perbedaan akses yang dimiliki (akses ekonomi, pendidikan, lingkungan). Jadi sebagaimana kita gak cocok dengan semua orang, dengan anak-anak pun wajar kalau kita tidak semuanya merasa cocok. Tapi itu bukan salah mereka sebagai anak-anak. Bedakanlah hal itu.
Pertalian darah, cenderung membuat toleransi kita lebih tinggi dibanding anak orang lain yang tidak kita kenal. Kita masih lebih toleran, berempati, berkasih sayang contohnya pada ponakan kandung kita sendiri kalau tiba-tiba tantrum di tempat umum daripada anak orang lain yang kita tidak kenal. Kalau sama ponakan sendiri, kita mungkin akan langsung bertanya “Adek/kakak kenapa ya? Capek? ngantuk? laper?”. Ada usaha untuk mengerti. Kalau lihat anak orang lain, mungkin banyaknya orang sudah judging sekali dengan anaknya dan orang tuanya, memberikan mereka label begini dan begitu, bersikap sinis, atau otomatis nyinyir.

Nah yakinlah bahwa toleransi, empati, dan kasih sayang kita itu jauh lebih besar lagi pada anak kandung kita sendiri. Bisa dibilang, meski kita merasa bukanlah orang yang sempurna sabarnya, tapi kenyataannya kitalah dua orang di dunia ini yang paling sabar dengan anak kita sendiri. Karena setelah menjadi orang tua, sabar itu gabungan antara dorongan alami dan keharusan untuk sabar. Jadi meski kesabaran kita setipis tisu, kita ga punya pilihan lain selain harus belajar sabar :’)
Out of topic sedikit:
Oia bedakan juga sabar dengan mengabaikan ya. Dalam konteks interaksi sosial (orang tua-anak-orang lain-tempat umum) tentu harus ada hal-hal yang dijaga. Kita gak bisa meminta orang lain untuk toleran seluas toleransi kita ke anak sendiri. Di tempat umum, yang harus dijaga adalah hak orang banyak dan tempat bersama itu sendiri. Kita sudah biasa mendengar tangis, teriak, dan merengeknya anak kita. Tapi orang lain tidak. Dan tempat umum, yang perlu dijaga adalah kenyamanan bersama. Jadi tentu harus kita tangani anak kita dengan tepat.
Kita Harus Kenal dengan Diri Kita Sendiri
Berinteraksi dengan anak-anak artinya kita harus kenal dan mau bekerjasama dengan diri kita sendiri. Haruss punya keinginan belajar dan tumbuh. Cause kids will push our limit. Bukan dengan maksud jahat, tapi posisi menjadi anak yang sedang bertumbuh di bawah kontrol orang tua juga bukanlah hal yang mudah. Kita sebagai orang tua harus tahu kapan energi kita mau habis, kapan kita akan menuju marah, kapan tubuh kita kelelahan, hal apa yang memancing emosi negatif dan perilaku negatif kita. Kitalah orang dewasanya. Kita yang harus mencari tahu dan menyelesaikan apa yang kurang atau belum selesai di diri kita sendiri. Dalam hal mengelola setiap situasi bersama anak, terkadang PR utamanya justru ada di diri kita sendiri.
baca lebih lanjut Bagian 2