Yang kita lihat, yang kita tahu, anak harus bisa ini dan itu. Kenyataannya ada begitu banyak hal yang harus anak pelajari untuk bisa mencapai sesuatu. Semua ada tahapannya. Kalau kita tidak memahami betapa kompleksnya proses perkembangan anak, sulit untuk memiliki empati pada anak-anak. Saat empati sulit tumbuh, kita sangat mudah terganggu dan enggan melatih endurance kita terhadap anak-anak. Kita hanya akan fokus pada respon mereka yang “merepotkan”, tanpa paham apa yang mau dicapai atau arah yang dituju dari situasi yang kita hadapi bersama anak.

Di Bagian 1, kita udah bahas yang dimaksud sabar dalam pengasuhan. Bagian 2 ini bakal cerita panjang tentang kapan aja momen-momen menguji kesabaran yang harus kita sadari, apa yang bisa kita usahakan untuk mengelola situasinya, dan apa faktor yang menghalangi kita mengelola situasi bersama anak dengan tenang. Sebab ternyata sabar itu bukanlah hal instan. Untuk bisa sabar, ternyata ada serangkaian hal yang harus kita lakukan. Harus ada usahanya.

Ujian Kesabaran Harian

Anak-anak itu hidupnya gak random ya teman-teman. Mereka dibiasakan mengenal waktu. Caranya ya dengan rutinitas harian. Rutinitas harian isinya adalah pembiasaan pola hidup. Dari bangun pagi sampai tidur malam semuanya diatur kapan waktunya bangun pagi, kapan makan utama (3x sehari), kapan makan snack (1-2x sehari), kapan minum obat kalau sakit, kapan main/belajar, kapan mandi, kapan tidur. Kita para ibu menjaga rutinitas harian itu untuk menjaga disiplin pola hidup, memastikan nutrisi yang cukup, memastikan pemulihan kalau sakit, stimulasi perkembangan, dll. Nah bekerjasama dengan anak dalam menjaga pola ini tidak selalu baik-baik saja setiap harinya.

Contoh ujian kesabaran harian/rutinitas kita dengan anak, terutama anak usia 1-5 tahun

  1. anak tidak melakukan hal yang diminta
  2. tantrum dan menangis keras kalau keinginan tidak didapatkan atau merasa kesulitan
  3. rumah berantakan, kotor karena tumpahan makanan atau minuman
  4. mengulang perilaku padahal sudah diingatkan
  5. bertengkar dengan saudara
  6. menolak makan, tidur, sikat gigi, minum obat, membereskan mainan, dan rutinitas lainnya
  7. tiba-tiba tantrum lalu menolak kegiatan bersama (misal saat kelas stimulasi)
  8. lari-lari, berteriak, memanjat, lompat-lompat
  9. anak menuntut perhatian terus-menerus
  10. anak tidak mau menunggu (ingin cepat)
  11. anak bertanya berulang-ulang
  12. anak mengulur-ngulur waktu

Silahkan tambahkan lagi. Bisa jadi semuanya ada setiap harinya, bisa jadi juga hanya sebagian tapi ya ganti-gantian aja yang muncul di hari-hari berikutnya. Apalagi usia balita, ini semualah makanan sehari-hari yang dihadapi dari buka mata sampai tutup mata di malam hari. Ini belum soal tugas mengurus seisi rumah ya. Daftar di atas baru soal kelakuan anak-anak yang muncul setiap harinya.

Seringnya, kita masih punya toleransi besar sejak pagi hingga menuju sore hari. Mulai sore, kita udah mulai kehabisan tenaga, sedangkan anak-anak selalu dalam kondisi full power. Apalagi jika mereka mendapatkan tidur siang, sedangkan kita tidak sempat. Di akhir hari, anak-anak masih merasa seperti awal hari. Sedangkan kita sudah seperti aki mobil soak yang masih harus terus menjalankan mobil sampai di tujuan.

Terus ngelola situasi harian ini dengan tenang itu gimana caranya?

  1. Pahami tahapan perkembangan anak
    Hal paling utama adalah kita harus paham setiap anak sedang di tahap apa. Dengan itu kita tau apa yang biasa terjadi di usianya, apa yang mau dicapai di usianya, apa yang harus kita lakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Perilaku anak yang tantrum, menolak bekerjasama, memanjat, loncat-loncat, berantakin barang-barang, bertanya berulang-ulang, dst adalah bagian dari perkembangan usia yang dialami anak. Kalau tidak ada pengetahuan tentang ini, sudah pasti pikiran kita hanya jangka pendek saja. Sudah pasti sumbu pendek, karena gak paham perilaku itu datang dari mana dan untuk apa. Pemahaman akan memupuk empati, modal awal untuk berinteraksi dengan anak-anak.
  2. Penuhi kebutuhan diri sendiri dulu
    Untuk bisa survive secara fisik dan mental dari pagi sampai malam, kenyataannya kita butuh tenaga dan stabilitas mood bun. Tenaga dan stabilitas mood ini datangnya dari tidur yang cukup, makan bergizi dan kenyang, minum, kesehatan tubuh yang baik (olahraga, dukungan vitamin jika dibutuhkan), dan tubuh yang bersih/segar. Pokoknya ibu harus nyaman dulu dengan diri ibu. Buat ibu yang baru melahirkan bahkan menyusui sampai anak usia 2 tahun pasti challenging sekali ngerjain tugas utama ini. Tugas utama memberi hak dirinya sendiri.

    Sebagai orang yang udah cobain model segala jadi yang terakhir: terakhir makan, terakhir mandi, terakhir tidur, ini semua terbukti MENGACAUKAN SEGALANYA. Kita pikir menahan lapar menyuapi anak demi bisa makan dengan tenang belakangan adalah hal yang menguntungkan kita, tapi kenyataannya selalu aja berujung terlambat makan. Kita pikir merapel mandi adalah hal yang efektif. Kita pikir balas dendam dengan begadang bisa jadi release kita di akhir hari. Kenyataannya, itu semua membuat tubuh kita gak nyaman karena kelaparan, kepanasan atau keringetan, gak punya tenaga yang cukup, mood kita jadi senggol bacok.

    Yuk bu, kita harus lebih peka sama kebutuhan diri sendiri. Prioritaskan semaksimal mungkin. Kalau udah jam makan, makan dulu apalagi kalau anaknya drama banget disuruh makan. Mending kita makan duluan. Begitupun mandi, mending kita mandi duluan buat bangun mood. Urusan nanti harus mandi lagi gara-gara ini dan itu yaudah nanti mandi lagi. PAK AYO PAK bantu ingatkan ibu soal hak tubuhnya. Kalau gak dibantu ingatkan dan bantu kasih waktu gak akan ada berhentinya.
  3. Cegah dan minimalisir chaos yang terjadi
    Untuk mengakomodir perkembangan anak dengan segala eksplorasinya, kita hanya bisa mencegah dan meminimalisir dampak yang terjadi. Cegah kecelakaan di rumah dengan amankan area-area yang biasa diakses anak-anak dari benda tajam atau berpotensi melukai. Cegah tumpahan makanan dan minuman dengan tidak meninggalkan gelas berisi air atau piring berisi makanan. Gunakan perabot-perabot yang bisa dikunci dan punya ujung yang tumpul. Kalau gamau anak berantakin lemari pakaian, kunci lemarinya atau kamarnya, rak paling bawah jangan diisi dengan baju-baju yang bisa ditarik anak. Nanti kalau sudah waktunya anak belajar milih atau pakai baju sendiri barulah kita permudah akses anak ke baju miliknya. Minimalisir tingkat berantakan dengan batasi mainan yang bisa diakses di hari itu (rolling mainannya), atau minimalisir area berantakannya (misal main di kamar jadi berantakannya cuma terpusat di kamar), atau batasi jam boleh berantakannya.
  4. Bertoleransi dengan kasih batasan waktu
    Beri toleransi batasan waktu untuk apa yang anak-anak kerjakan. Kenalkan dengan timer. Misal rumah boleh berantakan hanya sampai jam 15.00, setelah itu bersama-sama bereskan mainan dan rumah untuk persiapan ayahnya pulang kantor. Main air, menonton, dll selesai kalau timer sudah bunyi. Atau bisa juga, tanda selesainya adalah berupa aktivitas misal kalau mama sudah selesai makan berarti nonton tv nya sudah selesai ya. Kalau mama sudah selesai masak, berarti main airnya selesai ya, dst
  5. Ikhlas kalau harus ngomong berulang-ulang
    Dulu aku juga frustasi sekali kenapa harus ngomong berulang-ulang. Mengingatkan sesuatu berulang-ulang. Menjelaskan sesuatu berulang-ulang. Tapi kenyataannya ini adalah konsekuensi dari kita yang berusaha untuk tidak dikit-dikit cubit, pukul, atau bentuk lainnya. Kita harus terus mengingatkan dan mengulang-ulang sesuatu agar anak ingat apa yang kita katakan. Kalau udah cape banget ngomong berulang-ulang, apa yang harus dilakuin? Misal anak terus menginjak, membanting, atau menabrak-nabrak mainan, padahal sudah diingatkan, maka hentikan saja dengan ambil dan simpan mainan tersebut. Kalau sudah diingatkan berkali-kali tapi anak mencoret-coret tempat yang tidak semestinya, padahal sudah diberikan tempat/medianya yang seharusnya, ambil dan simpan saja krayon/pensil/spidolnya. Saat nanti akan diberikan kembali, buat perjanjian bahwa menulis/mewarnai hanya boleh di tempat yang disediakan, jika tidak maka pensil/spidolnya disimpan kembali.
  6. Pemberitahuan dulu dan beri waktu sebelum aktivitas
    Hari ini kita mau pergi ya, jadi makan dan mandi dulu sebelum pergi. Kalau anak memutuskan untuk ikut, bisa tanyakan mau mengerjakan yang mana dulu. Makan dulu atau mandi dulu. Beri buffering time, jangan diburu-buru. Kalau anak malah tantrum tidak jelas apakah mau ikut atau tidak berikan saja pilihan, “yasudah kalau tidak mau ikut ya tidak apa-apa, nanti tunggu di rumah nenek aja sampai papa mama pulang ya”. Dan jangan jadikan itu omong kosong. Beneran dilakuin, antarkan ke rumah neneknya dan tinggal saja meski mengamuk sekalipun supaya anak tahu kalau memang tidak mau ikut ya bisa tunggu saja di rumah nenek. Itu sebuah pilihan, bukan bentuk hukuman, bukan omong kosong. Suatu saat nanti dia bisa memilih, kalau memang tidak mau ikut dengan apa pun alasannya, dia bisa tunggu saja di rumah/rumah nenek.
  7. Mudahkan urusan-urusan kita sendiri
    Misal karena tahu rumah akan bolak balik kotor, maka gunakanlah alat kebersihan yang bisa selalu stand by dan mudah digunakan. Terkadang kita kesal membersihkan sesuatu karena alatnya tidak siap pakai/tidak stand by, jumlahnya kurang, standar atau cara kita membersihkan sesuatu menyulitkan kita sendiri. Semuanya jadi terasa berat. Permudahlah pekerjaan kita sendiri untuk meminimalisir amarah yang tidak diperlukan.

    Anak bolak balik ganti baju karena kotor, maka kalau bisa lebihkan stok baju anak. Masak butuh waktu lama, maka permudahlah hari-hari dengan food preparation saat akhir pekan (potong-potong semua bahan masak, langsung bagi dalam porsian, buat bumbu serbaguna, dll). Kita yang paling tahu pekerjaan kita dan cobalah brainstorming atau sharing sesama ibu bagaimana caranya memudahkan urusan-urusan kita sendiri. Sesama ibu pasti banyak sekali tipsnya.

Kita harus tau apa yang kita tuju dalam setiap situasi. Apa yang mau kita tanamkan ke anak? Kita ingin anak belajar tentang apa? Misal tentang menyimpan mainan karena anak membantingnya, kita mau anak belajar menghargai barang yang ia miliki. Mainlah dengan cara yang baik. Kalau anak tidak bisa menghargai barang-barang tersebut, lebih baik disimpan saja. Misal tentang anak mencoret tempat yang tidak seharusnya, kita mau anak belajar bahwa menulis/mewarnai itu dibolehkan tapi di tempat yang disediakan. Kalau anak menulis/mencoret di tempat yang tidak seharusnya, hanya akan merusak barang atau tempat tersebut. Kalau anak lompat-lompat di kasur, kita hentikan dan alihkan ke permainan yang lain karena kita ingin anak tahu bahwa kasur adalah tempat tidur, bukan tempat lompat-lompat. Di sisi lain, lompat-lompat di kasur juga sangat berbahaya karena resiko jatuh. Kalau ayah-bunda mau menyediakan tempat yang boleh dan aman untuk lompat-lompat juga lebih baik lagi.

Menghadapi tantrum anak dengan kita tahu tujuan di depannya akan membuat kita lebih tenang. Karena kita tahu kita melakukan sesuatu untuk apa. Tinggal bagaimana mengelola tantrum anak. Biarkan sampai tenang, peluk sampai tenang, atau arahkan ke permainan lain, silahkan pilih saja sesuai kondisi masing-masing. Kalau kita selalu mengartikan reaksi anak sebagai bentuk perlawanan, tidak mau mendengarkan, tidak mau menuruti, rasanya interpretasi itu pun tidak tepat karena bukan ke sana arahnya. Biasanya anak-anak hanya frustasi karena tidak mendapatkan apa yang ia inginkan. Dan perasaan itu pun adalah hal yang wajar, bisa dimengerti, tapi juga bagian dari proses belajar anak.

Ujian Kesabaran Momen Khusus/Masa-Masa Krusial

Tadi kita baru bahasa hal-hal harian. Tarik napas dulu… Masih ada momen-momen khusus yang krusial. Momen yang jadi bagian dari perkembangan anak, bagian dari keseharian kita, dan mostly tidak terulang kembali. Maka kita harus wajib kudu mesti hati-hati banget di masa-masa ini.

Sebagaimana orang dewasa butuh waktu untuk belajar hal baru, anak-anak pun butuh waktu untuk belajar dan adaptasi. Setiap capaian perkembangannya itu gak terjadi secara instan. Semua berjalan perlahan dan bertahap. Masa transisi dari satu kemampuan ke kemampuan yang lain itulah masa-masa krusial kita wajib bersabar. Salah langkah atau sikap di masa krusial ini bisa berbekas dalam jangka waktu lama di diri anak ke depannya.

  1. transisi asi ke mpasi: dari yang cuma minum asi yg all in one jadi harus makan makanan padat, belajar mengunyah, mengenal berbagai rasa dan tekstur makanan, bahkan makan sendiri
  2. transisi menyapih: dari yang selalu mendapatan kenyamanan dipeluk, disayang, kenyang, tiba-tiba harus dilepaskan
  3. transisi toilet training: dari yang belum mengenal sinyal BAK dan BAB jadi mulai kenal, belajar kontrol, belajar aturan kamar mandi, belajar membersihkan diri
  4. transisi punya adik: belajar jadi kakak, belajar jadi teman main, belajar mandiri
  5. transisi bersama orang lain: dari yang biasanya full bersama orang tua, mulai belajar beraktivitas sama orang lain
  6. transisi masuk sekolah: belajar mandiri, adab-adab, belajar berteman, belajar mendengar instruksi guru, dll
  7. transisi tidur sendiri: dari yang biasanya nyaman dan aman tidur nempel bersama orang tua jadi harus tidur sendiri

Contoh bersabar saat anak toilet training:

Tidak ada jalan lain selain kita harus belajar dulu tentang apa itu toilet training. Supaya kita tahu apa sebenarnya yang mau anak capai dan apa yang menjadi tugas kita sebagai orang tua. Karena kekacauan yang akan terjadi sudah bisa kita perkirakan dalam hal berulang-ulang membersihkan rumah dan pakaian anak. Kitalah sebagai orang tua yang harus mengelola situasi itu bagaimana caranya agar mudah untuk anak dan mudah untuk orang tua.

Pemahaman kita dan persiapan mental bahwa ini bukanlah proses yang instan, akan membantu kita menahan amarah. Kita jadi tau bahwa kita harus berhati-hati. Memarahi anak dengan keras di masa krusial ini bisa berbekas sangat kuat pada anak. Anak bisa merasa sangat malu, merasa gagal dengan dirinya sendiri, dan kontrol terhadap keinginan BAK dan BAB nya semakin kacau karena cemas dimarahi.

Tidak ada jalan lain selain menahan diri dari amarah selama masa krusial ini sampai anak sukses mencapainya. Boleh banget motivasi anak dengan hadiah yang bisa ia dapatkan kalau anak berhasil mencapai toilet trainingnya. Tidak ada jalan lain juga selain mengingatkan dan terus mengingatkan kalau anak ternyata mengompol saat malam. Ingatkan besoknya dan bantu kondisikan bahwa anak harus BAK dulu sebelum tidur, jangan terlalu banyak minum sebelum tidur, atur agar suhu kamar jangan terlalu dingin.

Atau contoh lain

Anak menangis keras, mengulur-ulur waktu, saat akan berangkat sekolah hari pertama. Meski kita sebagai orang tua sudah memberikan pemahaman dan menyiapkan mentalnya jauh sebelum hari pertama. Bagi anak, mereka ketakutan karena tidak tahu apa yang akan terjadi. Apalagi ditinggal (tidak didampingi) orang tua di tempat baru bersama orang lain yang tidak dikenal. Mau kita yakinkan pun, ketakutan itu tetap nyata. Terus apakah berarti oh tidak usah sekolah saja kalau tidak mau, atau langsung kita marahi dan seret saja ke sekolah?

Kembali dulu ke apa tujuan kita di hari itu? Membuat anak membiasakan diri melawan rasa takut, mau mencoba hal baru, atau.. apa tujuan kita? Dengan itu kita punya arah untuk menyelesaikan situasi bersama anak. Berikan waktu sampai nangisnya selesai, atau berikan batasan waktu untuk menangis setelah itu tetap tenang gendong tanpa dimarahi. Peduli dengan rasa takutnya, misal dengan peluk/usap-usap selama perjalanan. Antarkan dengan tenang sampai bertemu guru. Berikan semangat dan tinggalkan dengan tenang. Sambut kembali anak dan berikan pujian saat dia berhasil menyelesaikan hari pertamanya.

Paham pada rasa takut anak, mengakui bahwa di posisi anak bukanlah hal mudah (terapkan empati dan berbelas kasih), tapi goals hari itu adalah hal yang penting untuk anak belajar, sehingga apa yang harus kita lakukan? Anak hanya perlu dikuatkan untuk sampai di tujuan. Anak tantrum bukan untuk mengacaukan suasana, bukan untuk menghancurkan/tidak menghargai semua usaha orang tua, dan sejenisnya.

Kalaupun memang ingin memberikan hadiah, sejak awal sudah harus diberi tahu bahwa orang tua akan memberikan hadiah jika anak berhasil melewati hari pertama sekolahnya. Jangan tiba-tiba memberikan hadiah setelah anak tantrum. Meski diiming-imingi hadiah sejak awalpun, yakinlah anak tetap akan tantrum. Karena inti masalahnya adalah rasa takutnya yang sangat bisa dipahami.

Jadi..

Contoh-contoh situasi itu adalah situasi yang bisa kita pelajari sejak jauh hari. Anak belajar kapanpun dan dimanapun. Kita harus tahu momentum-momentum mendidik anak tentang sesuatu. Momennya bisa terjadi dalam hitungan detik. Kita yang harus siapkan diri untuk tenang karena tahu bahwa anak akan munculkan berbagai gejolak. Meski sudah berusaha sedemikian rupa pun, tetap akan ada saja yang terjadi di luar skenario. Maka pikirkanlah solusi cepat TANPA MERUSAK TUJUAN. Bukan mengambil jalan pintas agar anak menurut, agar berhenti menangis, urusan cepat selesai, atau hal sejenisnya.

Bisa sabar itu ternyata hasil dari

  1. Paham kondisi anak
  2. Memiliki empati dan kasih sayang pada anak
  3. Paham tujuan yang mau dicapai dari situasi bersama anak
  4. Paham tugas/peran kita sebagai orang tua
  5. Punya kemampuan problem solving

Tentukan prioritas ayah-bunda. Dalam hal harian, terkadang memang jauh lebih sulit mengendalikan emosi kita karena kehabisan tenaga. Maka pikirkan apa yang bisa kita cegah dan minimalisir situasinya? Bagaimana caranya agar tubuh kita prima untuk beraktivitas, mood kita stabil menghadapi tingkah laku anak, bagaimana cara agar teknis pekerjaan-pekerjaan kita menjadi lebih mudah. Kita tidak akan pernah bisa menjadi sempurna, yang ada hanya mengupayakan menjadi lebih baik besok hari.

Saat kita tahu kita masih sering “kalah” dalam hal harian, berarti kita harus jauh lebih berhati-hati lagi dengan masa-masa transisi yang krusial bagi anak. Saat situasi berjalan tidak sesuai yang kita inginkan (terutama pada masa-masa transisi) mungkin memang kita yang tidak cukup merencanakan/mempersiapkannya. Anak hanya merespon sebatas pemahaman mereka, kitalah orang tua yang harus lebih besar dari situasi tersebut.

Gita Nadia Parenthood

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *