
Setelah anak lahir, rentetan tanggung jawab menyita hampir seluruh waktu, tenaga, pikiran, dan perasaan kita kita baik suami maupun istri. Para ayah sibuk dengan lika-liku pekerjaannya. Para ibu sibuk mengelola A sampai Z urusan anak dan seisi rumah.
Semua telah kita kerahkan maksimal pada tiap urusan. Tapi mengapa seperti tak ada yang benar-benar selesai atau tercapai? Hari-hari terasa berat, bahkan tak jarang muncul masalah-masalah baru. Mulai dari anak bahkan hubungan kita sebagai suami istri.
Katanya anak butuh orang tua yang bahagia, bukan yang sempurna. Tapi di titik pengasuhan lebih mengarah ke survival, nyatanya kata bahagia itu terasa jauh sekali. Apalagi mau bahas jadi sempurna? Lalu, apa yang salah? Manajemen waktu? Beban pekerjaan? Diri sendiri? Pasangan? Bagaimana kita harus merapikan ini semua?
Kalau kita cerna pelan-pelan, mungkin ini soal kita yang lupa menjadi manusia.
Tenggelam dalam Peran dan Abai terhadap Diri Sendiri
Semua orang tua yang sibuk pasti akan menjawab kesibukannya atas dasar tanggung jawabnya terhadap keluarga. Waktu, tenaga, pikiran, dan perasaan kita habis terpusat pada urusan pekerjaan, anak dan rumah tangga. Rutinitas yang tiada henti ini perlahan menenggelamkan. Kita mulai fokus pada tugas-tugas dan mengabaikan hal-hal yang sebenarnya kita butuhkan. Seperti makan tepat waktu, olahraga, istirahat, terhubung dengan orang dewasa lainnya, belajar atau berkembang, dan kebutuhan lainnya.
Mirisnya, hal yang seharusnya sebuah kebutuhan, malah kita anggap sebagai distraksi dari tanggung jawab. Padahal itu semua adalah kebutuhan kita sebagai manusia, terutama sebagai orang dewasa. Saat kebutuhan tersebut kita abaikan, perhatikan saja pastilah dengan sendirinya kita mulai kehilangan arah. Dengan itu pula, mode survival/autopilot pun mulai aktif. Kita berubah menjadi robot yang hidup tanpa nyawa. Sibuk dengan daftar pekerjaan apa yang sudah selesai dan belum selesai.
Tentu, ini kondisi yang ideal. Kenyataannya, ada masanya kita sebagai orang tua memang harus menjalani mode survival untuk beberapa waktu. Bahkan banyak orang tua yang tidak punya kesempatan untuk mengisi dirinya sendiri karena keterbatasan yang ada (minimnya dukungan untuk mengerjakan tanggung jawabnya, waktu, finansial, dst). Tapi percayalah bagaimanapun caranya pemenuhannya, dengan mengisi kebutuhan diri sendiri ini akan membantu kita keluar dari mode survival itu sendiri.
Manusia Sudah Seperangkat dengan Keterbatasannya
Setiap diri kita sudah seperangkat dengan kelebihan, kekurangan, dan keterbatasan diri. Mungkin kita udah terbiasa mengenali kelebihan dan kekurangan diri, tapi apakah kita sudah mengenal dimana batas diri sendiri? Batas toleransi, batas kesabaran, batas kapasitas, batas tenaga, batas kesanggupan mental.
Tanggung jawab yang tidak ada habisnya ini sebenarnya secara perlahan menguak dimana batas diri kita pada banyak hal. Seringnya, kita malah mengartikan keterbatasan sebagai kelemahan. Kita merasa salah hanya karena sebenarnya kita sedang mencapai batas kita yang sangat manusiawi.
Batas membuat kita tahu kapan harus berhenti. Memelihara batas, artinya memelihara diri kita sendiri supaya bisa terus mengerjakan peran dan tanggung jawab kita dengan optimal. Sayangnya, bahkan sebagian besar kita tidak tahu batas kesanggupan diri sendiri. Sehingga bagaimana kita bisa merawat diri saat kita tidak memahami diri kita sendiri? Dan ya, lebih sedihnya lagi banyak posisi orang tua yang bahkan tidak memiliki kesempatan untuk berhenti dan memelihara diri saat mereka sudah jauh melewati batas kesanggupan mereka.
Sebagai diri sendiri, pelajari batas-batas kita dan komunikasikan kepada pasangan
“kayaknya aku butuh waktu tenang dulu”
“kayaknya aku butuh ketemu teman/keluargaku dulu”
“kayaknya aku butuh..”
Sebagai pasangan, tugas kita saling perhatikan satu sama lain. Ingatkan saat sebenarnya pasangan sudah butuh mengisi dirinya. Kita bantu amankan tugas-tugas yang ada sehingga pasangan punya waktu untuk berhenti sejenak.
Lupa Meminta Pertolongan
Keterbatasan diri selain mengingatkan kita untuk berhenti, ia juga menjadi sinyal bahwa sesuatu berada di luar kemampuan kita. Sehingga kita harus…? Ya, meminta pertolongan. Paling pertama adalah meminta pertolongan Allah, kedua meminta pertolongan manusia yang ahli di bidangnya.
Sepanjang mengasuh anak, sudahkah ayah-bunda sadari bahwa anak ternyata tidak 100% dalam genggaman kita? Ada begitu banyak faktor yang mempengaruhi anak untuk mencapai sesuatu. Usaha kita tidak akan pernah menjadi faktor tunggal kesuksesan anak dalam suatu hal. Sehingga, yang harus kita lakukan adalah, meminta pertolongan pemilik sesungguhnya. Memohon agar Sang Pemilik utamalah yang mengatur dan menjaga apa yang diluar kendali kita sebagai orang tua.
Hari ini, ilmu tentang anak dan pengasuhan sudah berkembang sangat jauh. Sebagai orang tua, tidak mungkin kita bisa melahap dan memproses semuanya. Saking luasnya ilmu yang ada, kitapun tentu punya keterbatasan mendalaminya. Makanya kita butuh bantuan profesional agar semua usaha yang sedang atau akan kita lakukan bisa terarah sesuai situasi, kondisi, dan kebutuhan anak. Jangan sampai kita keburu kelelahan, tapi tidak juga menyentuh akar permasalahan.
Dan yang paling utama lagi adalah meminta pertolongan pada pasangan atau keluarga yang menjadi support system saat kita sudah mulai kewalahan. Bahkan mencegah kewalahan terjadi.
Menghakimi Diri Sendiri
Siapa di sini yang seringkali ketika hambatan muncul atau sesuatu berjalan tidak seperti yang diinginkan langsung menghukum diri sendiri dengan berbagai kalimat ini?
“kenapa aku lemah sekali?”
“aku orang tua yang buruk”
“aku tidak becus melakukan ini”
Dear ayah-bunda, menghakimi diri sendiri seperti ini jelas tidak sehat dan…tidak produktif. Kalimat-kalimat negatif yang bersarang di kepala kita hanya akan menenggelamkan kita dalam rasa bersalah, merasa buruk dengan diri sendiri, bonusnya lagi tidak akan ada masalah yang terselesaikan. Program menghakimi diri ini biasanya sudah ter-install sejak kita masih kecil. Menjadi bagian dari bekas pengasuhan orang tua kita dahulu. Namun kini saat kita di posisi sebagai orang tua, yang kita perlukan saat menghadapi permasalahan atau hal-hal di luar dari yang kita pahami adalah mencari jalan keluarnya. Bukan menghakimi diri sendiri.
Memang, hal ini butuh sekali latihan terutama untuk menghentikan pikiran negatif tersebut. Mulailah belajar menerima, memaafkan diri sendiri, dan mengasihi diri sendiri. Mengenal diri secara objektif dan mampu memaafkan diri sendiri akan sangat membantu kita dalam menepis pikiran-pikiran negatif tersebut. Terima dan maafkan diri bahwa kita sebagai manusia memang memiliki banyak keterbatasan.
“Oh aku baru tahu tentang hal itu. Aku akan mempelajarinya lebih dalam”
“Oh ternyata harusnya seperti ini ya. Aku keliru kemarin.”
“Baiklah akan aku coba sesuaikan lagi dengan cara baru”
Terlarut dalam Tuntutan Performa, Lupa Membangun Koneksi
Checklist demi checklist pekerjaan dan tumbuh kembang anak lama-lama tak ubahnya sinetron kejar tayang. Semua menunggu untuk dikerjakan. Kalau dulu anak dituntut besar dalam aspek akademik, hari ini jauh sebelum akademik, anak sudah dipantau tahapan perkembangannya. Baik dokter maupun guru akan memantau mana aspek yang sudah maupun belum anak penuhi. Hal itulah yang akan menjadi bahan evaluasi atau masukan untuk orang tua.
Evaluasi ini memang sangat bisa menjadi hal yang tidak menyenangkan untuk orang tua. Untuk semua yang anak belum capai, pasti orang tua diminta untuk mengejarnya. Lalu inilah yang akan menjadi awal dari penuhnya isi kepala orang tua, (terutama) para ibu. Keinginan kita untuk membantu anak sampai pada tahap yang diminta, tanpa sadar terkadang membuat kita menjadi fokus pada peforma diri sendiri dan anak. Lama-lama, rumah hampir tidak ada bedanya dengan sekolah atau tempat lain yang menuntut peforma ini dan itu.
Aku tahu ini sulit sekali untuk kita orang tua menyeimbangkannya. Bagaimana cara memacu peforma anak tanpa menjadikan rumah ini menjadi tempat yang melelahkan. Mungkin memang harus kita mulai dari memperbaiki hubungan/koneksi dengan anak. Apakah belakangan ini hubungan kita dengan anak sebatas rutinitas saja atau sudah terkoneksi dengan baik secara emosional? Apakah hambatan-hambatan ini muncul atas apa yang tak sempat anak ungkapkan pada kita? Sehingga tanpa sadar kita terus sibuk berjalan tanpa melihat kemampuan kaki anak untuk mengikuti langkah kita.
Berhenti dulu yuk ayah-bunda. Kita coba cerna pelan-pelan ini semua dan pikirkan ulang arah pengasuhan ini. Seperti apa sebenarnya pengasuhan yang ingin kita berikan pada anak? Mungkin bukan soal jadi sempurna atau bahagia. Gimana kalau kita jadi orang tua yang manusiawi dulu aja?
Bukankah anak belajar menjadi manusia dengan melihat kita menjadi manusia?
Terima kasih sudah sharing dan mengingatkan, kak 🙂
Sama-sama kak Asri 🙂 Semoga Allah lancarkan urusan kita ya kak 🙂