Pernah gak ayah-bunda merasa kecewa atau sedih sekali karena anak tidak mau mengikuti instruksi atau ajakan ayah-bunda sebagai orang tua? Jujur aku pribadi udah gak kehitung berapa kali sampai di tahap hopeless untuk banyak hal karena anak seringkali menolak apa yang datang dari kami sebagai orang tuanya. Terutama setiap kami ajak anak untuk kegiatan stimulasi di rumah, murojaah hafalannya, atau hal-hal lain yang menjadi PR kita sebagai orang tua mendampingi anak.

Mungkin, cara mengajar kami yang salah, kami yang kurang sabar, atau tempat dan waktunya tidak mendukung. Entah mengapa anak punya banyak alasan untuk menolak, ingin cepat mengakhiri kegiatan, malah sibuk meminta reward dari aktivitas belajar, bahkan menolak cara-cara yang kami ajarkan. Contohnya, ketika sesuatu yang dipelajari terasa sulit, anak mulai mencari cara atau argumen untuk menyudahi sesi. Atau saat kami mulai serius mengajarkan sesuatu, anak mulai merengek atau bercanda-canda yang justru semakin membuat situasi tidak kondusif.

Kami sering buntu. Di sisi lain, ego kami sebagai orang tua cukup tergores. Mengapa anak tidak mau menurut? Saat anak menolak apa yang datang dari kami padahal kami cukup paham apa yang kami ajarkan, di situlah perasaan gagal datang terus-menerus. Ku akui, perasaan itu sangat menelan diriku sendiri sebagai ibu untuk waktu yang lama. Apalagi kalau melihat anak-anak yang lain seperti penurut sekali diajarkan orang tuanya. Atau para ibu yang kreatif sekali dalam membuat media-media pembelajaran untuk anaknya. Sedangkan aku tidak se kreatif itu dan anakku tidak sepenurut itu.

Kami sebagai orang tua juga berusaha bertanya ke beberapa teman tentang tipe anaknya dan bagaimana cara teman kami mengajarkan anaknya. Rata-rata teman kami menjawab bahwa anak mereka bisa dikondisikan, bisa diajak/tidak banyak penolakan, terkesan seperti anak yang tenang, dst. Dari hal “penurut” saja kami sudah tidak relate. Atau saat aku bertanya ke beberapa teman yang lainnya, ternyata anaknya bukan berkegiatan langsung dengan orang tuanya, tapi yang melatih anak adalah pengasuhnya. Lagi-lagi kami tidak relate, karena kami full di rumah tanpa pengasuh. Justru dengan kami full di rumah tanpa pengasuh lalu respon anak tidak mau mengikuti, semakin membuat kami merasa gagal.

Kebuntuan ini berjalan cukup lama, sampai akhirnya perlahan-lahan kami berusaha mengurai apa yang terjadi. Kami mulai belajar bahwa..

  1. Orang tua gak harus bisa semuanya, dan itu gak apa-apa
    Kita harus akui kalau diri kita ini PASTI punya keterbatasan. Ini karena kita manusia, bukan karena kita orang tua yang buruk. Meski sebenarnya kita mampu di suatu bidang pun belum tentu cara kita manyampaika sesuai dengan anak, lingkungannya kondusif, atau munculnya hal-hal lain yang gak bisa kita kontrol. Apalagi jika sesuatu yang anak butuhkan memang diluar dari kemampuan kita. Meski judulnya ini anak kita sendiri, kita yang paling kenal anak kita sendiri. Saat hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, mungkin… ada hal yang terlewat. Di sinilah sebenarnya kita sebagai orang tua butuh pendampingan ahli. Karena biasanya kita sebagai orang tua sudah terlalu penuh kepalanya untuk memikirkan sesuatu secara objektif. Belum lagi aspek perasaan kita yang sering terpaut. Kita sibuk merasa gagal, sibuk menyalahkan diri, dan mempertanyakan anak sendiri. Tenggelam dalam perasaan, tanpa solusi dari permasalahan akan semakin membuat kita dan anak jauh dari apa yang ingin kita capai
  2. Saat anak kesulitan atau terhalang dari sesuatu, tugas kita adalah cek apa penyebabnya
    Dalam kasus kami, anak kami yang kesulitan fokus, ingin cepat menyudahi yang sulit (toleransi stres rendah), sibuk meminta reward belajar padahal belajar belum selesai, daann permasalahan-permasalahan lainnya ternyata berakar dari banyak hal. Terutama screen time yang berlebih, penyaluran energinya yang tidak terstruktur, aspek sensorinya yang belum matang, dst. Inilah PR yang paling awal harus kami selesaikan sebelum kita bicara tentang tugas-tugas berkaitan dengan akademik. Ternyata ini tentang anak yang belum siap. Bukan tentang anak yang tidak penurut. Alhamdulillah, Allah memberikan petunjuk ini saat anak masih bersekolah di TK. Kami masih punya banyak waktu membantu anak mengejar yang tertinggal. Setelah kami upayakan lewat melepas kebiasaan screen time berlebih dan mefasilitasi anak menjalani terapi sensori integrasi, dalam waktu tiga bulan berjalan alhamdulillah progres atau hasil positif mulai terlihat.
  3. Anak memilih pintunya sendiri
    Ingat gak ayah-bunda, bahkan sejak anak usia 1 tahunan sudah bisa memilih atau membedakan peran orang tuanya? Anak tahu kalau urusan bermain/hiburan, ia mencari ayahnya. Kalau urusan kebutuhan hidup (makan, mandi, tidur, kenyamanan saat sakit) ia mencari ibunya. Termasuk dalam hal belajar, ternyata anak memilih pintunya sendiri. Mungkin saat ini anak tidak memilih kita sebagai pintunya dalam belajar (berkaitan dengan akademik), mungkin suatu saat nanti anak akan menjadikan kita sebagai pintu akadmiknya juga. Atau sebenarnya anak memang memilih kita sebagai pintunya untuk belajar hal lain misal belajar tentang rutinitas harian, tanggung jawab terhadap diri sendiri, belajar masak, belajar berkebun, belajar mengurus binatang peliharaan, dan hal-hal lainnya tentang hidup. Sedangkan yang berkaitan dengan akademik, ia memilih orang lain sebagai pintunya. Setelah kita pikir-pikir lagi, tidak ada yang salah dari itu bukan? Mungkin karena yang anak tolak adalah kita sebagai orang tuanya, kita jadi terbawa perasaan.
  4. Figur Orang Tua dan Guru adalah figur yang berbeda
    Di mata anak-anak, rumah dan orang tua adalah tempat ternyaman. Ia tahu, kalau ia bertingkah seperti apa pun, ia akan tetap diterima oleh orang tuanya. Rasa kasih sayang membuat ia merasa bisa bernegosiasi tentang banyak hal dengan orang tua. Rumah adalah tempat ia bernapas sejenak dari dunia luar yang menuntutnya untuk patuh, rapi, sesuai instruksi, dst. Sedangkan guru adalah figur otoritas yang jelas. Di sekolah, aturan beserta konsekuensinya dapat anak rasakan secara langsung dan kontan. Rasa malu atau rasa bersalah yang lebih kuat bisa iya rasakan di sekolah (di hadapan guru dan teman-teman). Belum lagi lingkungan sekolah mulai dari teman, guru, dan warga sekolah lainnya yang mengikuti aturan yang sama sehingga ikut mendorong anak patuh atau terpengaruh ikut patuh. Jadi saat anak memang merasa keluarga dan sekolah adalah dunia yang berbeda, mungkin ada baiknya kita biarkan itu tetap terjaga. Orang tua sebagai pendukung emosional, dan sekolah sebagai media mengasah kemampuannya. Mungkin anak tidak butuh “sekolah kedua”.
  5. Ayah, Bunda, dan Guru adalah Tim, bukan saling menggantikan
    Kita semua punya porsinya masing-masing. Ayah punya porsinya, ibu punya porsinya, dan para guru juga punya porsinya masing-masing dalam pendidikan anak. Kita sebagai orang tua mengerjakan begitu banyak pekerjaan tak terlihat seperti penanaman nilai-nilai, pembentukan karakter, membangun komunikasi yang baik, mengajarkan rutinitas dan tanggung jawab di kehidupan sehari-hari, mengajarkan berelasi dengan orang lain, daann lain sebagainya. Guru memiliki perannya masing-masing di bidang keahliannya (akademik). Dalam konteks anak belajar di sekolah, peran kita sebagai orang tua adalah mendukung agar anak dapat belajar secara optimal di sekolah. Secara umum, bisa dibilang tugas kita itu sebagai fasilitator atau supporter anak.
  • Membantu anak agar bisa fokus belajar:
    -> menjadikan sekolah sebagai hak sekaligus tanggung jawab utama anak (anak tidak dibebankan hal lain yang lebih besar dari sekolah)
  • Anak memiliki fisik dan mental yang sehat untuk menjalani pembelajaran
    -> Gizi anak yang terjaga, kesehatan tubuh yang terjaga, menjaga anak dari kondisi terlalu lelah baik fisik, mental, ataupun emosional
  • Mendukung pendidikan karakter anak di sekolah
    -> Inilah pentingnya kesamaan visi sekolah dan keluarga. Dengan kesamaan arah, pendidikan di rumah dan sekolah bisa saling menguatkan satu sama lain. Kita sebagai orang tua bisa dengan tenang mengucapkan “Yuk, kita ikut apa kata ibu/bapak guru”. Di sekolah, guru juga bisa mengatakan “Yuk, dengarkan apa kata ayah/bunda”
  • Saat anak kesulitan dalam belajar atau bergaul di sekolah, tidak harus kita yang menjadi aktor utama solusinya
    -> Konsultasi pada ahli, hadirkan guru privat/tutor yang cocok dengan anak, atau justru minta bantuan dari anggota keluarga/tetangga/orang lain yang memang bisa membantu menyelesaikan permasalahan anak. Manusia yang sehat adalah manusia yang mengenal batas dirinya dan tahu kapan meminta bantuan bukan? Dalam hal anak, kita memang sangat butuh bantuan banyak pihak. Jangan merasa bersalah hanya karena kita butuh bantuan orang lain dalam pendidikan anak ya ayah-bunda. Justru ketika kita tidak mencarikan solusi, berarti kita telah abai pada hak anak

Pada akhirnya, ini bukan tentang kita sebagai orang tua semata. Saat kita bisa mengerti situasi anak, insyaallah jalan menuju penyelesaian masalah akan lebih terbuka. Di tangan kitalah tanggung jawab utama pendidikan anak, tapi bukan berarti kita yang harus menjadi pintu penyelesaiannya SEMUANYA . Bukan berarti kita yang jadi aktor segalanya. Tugas kita adalah mengupayakan hak anak, membantu, mendukung, dan memfasilitasi. Semoga ayah-bunda yang sedang ada di fase ini Allah berikan kemudahan untuk menemukan akar permasalahan yang anak hadapi. Semoga kita bisa menjadi tim yang baik dengan para guru untuk bersama-sama mendukung perkembangan anak sesuai masanya.

Yasarallah ayah-bunda 🙂

Gita Nadia Parenthood

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *